Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Friday, June 28, 2013

Bahasa Bintang

Menatap sekumpulan bintang yang bercengkrama di atas langit bumi "Seinggok Sepemunyian" malam ini, ingin rasa nya aku ikut bergabung bersama mereka, menceritakan tentang apa yang telah terjadi, apa yang ada di relung kalbu, mengadukan hal-hal yang hanya mampu diucapkan di dalam hati.


Aku menghela nafas panjang, ketika aku teringat tulisan seorang sahabat kalau:


"Alam semesta ini bukanlah mayapada, atau alam maya, karena bila dimaksudkan seperti itu maka kehidupan di dunia ini pun tidak ada artinya, semu (maya). Kehidupan yang semu (maya) tidak bisa memberikan kebahagiaan (samsara), maka untuk mencapai kebahagian (moksa) harus ditempuh dengan mengasingkan diri dari dunia maya (tapa brata). Pandangan demikian tentu bertolak belakang dengan konsep aqidah, sebab bagi kita alam semesta ini adalah wujud yang haqq, benar adanya tidak semu (maya). 

Alam semesta ini pada eksistensinya yang haqq, yaitu benar dan nyata serta baik. Karena alam semesta ini diciptakan dengan 'haqq' (bi al-haqq, QS 39:5), tidak diciptakan secara 'main-main' )La'b, QS 44:38) dan tidak pula secara 'palsu' (bathil QS 38:27). Fana adalah sifat makhluk, tentu alam pun bersifat fana tapi keberadaannya adalah haqq tidak bathil".

----M.M.D----

Ya, fana adalah sifat makhluk, artinya aku tidak akan selamanya bisa melihat para bintang bercengkrama, tidak selamanya mengalir pada aliran air yang sama, tidak akan berpijak pada titian yang sama karena pastinya semua akan berujung dan semua akan berakhir.

Menatap bintang di atas sana seakan menyuruhku untuk mereview apa yang terjadi, ketika analisa SWOT menjadi begitu sulit dicerna, karena semua hanya berpaku pada hasil dengan meng-anak tiri kan proses yang di alami. Padahal sesungguhnya, keindahan yang nyata itu terletak pada saat berproses. Lalu apa artinya  empat pilar Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan, dan Ancaman ini?

Ah bintang, biarkan aku hanya menatap mu dari sini, banyak sekali yang ingin aku cerita kan tentang keinginan dan alasanku tetap berdiri di alam semesta yang bersifat fana ini, walau lidah ku terlalu keluh untuk berceloteh apa lagi bersenandung bersama mu, aku senang bisa melekungkan senyum kala menangkap kehangatan dalam bahasa bintang mu.

4 comments:

munir ardi blog said...

AH malam dan bintang begitu banyak cerita yang tertulis akan dikau, ceita yang mengiringi hidup anak manusia

octarezka said...

saya jugak suka liat bintang, dan ngarep bisa punya satu
#ngayal :P

Frendli Wirnawan said...

bintang... penghias malam...

cara menyembuhkan kanker serviks said...

terimakasih atas informasinya