Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Saturday, May 29, 2010

Ke-34 : Rindu

wSabtu, 29 Mei 2010

Akhir pekan dan aku masih terpenjara di kota Curup ini, kota yang indah yang sangat aku cintai tapi juga menjadi dilema di hatiku. Malam ini adalah malam penutupan acara ULTAH kota Curup, tak terasa sudah 3 kali aku menemui moment ini dan artinya sudah kurang lebih 3 tahun aku disini.
Hmmm... diiringi alunan lagu dari evanescence dari album In The Shadows ku tulis posting di blog ini setelah kemarin aku alpa. Di FB ku update status ku dengan tulisan "Here in my shadows, I'm sick.... I'm freak................." , yup, aku sakit sekarang ! dari kemarin hati nuraniku meronta, marah, merana dan meradang. Ku coba ungkapkan kepada sahabat, tetapi tak sepenuhnya bisa ia mengerti, karena banyak sekali yang tidak mengerti dengan kehidupan seorang fasilitator.
Sepertinya, kalau istilah orang, aku lagi sakit hati, hati nurani kami tercabik-cabik oleh oknum yang mungkin tidak pernah merasakan arti dari "pemberdayaan". Aku ingin pergi jauh ya Allah... aku lelah...
Tapi aku teringat selalu nasehat pakpe dulu ketika di akhir maret aku bimbang untuk menentukan langkah. Bila aku meninggalkan pendampinganku, artinya aku minggir dan kalah dengan keadaan, dan akan sia-sia usaha kita selama ini. Hiks... aku rindu ya Allah, aku rindu monivator-monivator seperti mereka di Bengkulu ini.... aku rindu dengan ilmu-ilmu pendampingan dari beliau-beliau.
Malam ini, terpaksa aku teguk pil parasetamol dan antalgin, jalan terakhir bila aku merasa tubuh ini suda tepar....... Hmmm... lucu sekali, beberapa hari ini aku mencoba menikmati hidup di desa, seakan-akan aku merasa inilah detik-detik terakhirku bersama mereka. Dan sekarang, aku tak peduli lagi dengan project, aku tak peduli juga dengan program pemberdayaan yang hanya menjadi tameng, aku hanya berusaha maksimal, apa yang bisa aku berikan kepada desa dampinganku. Bisa jadi besok, mungkin roda akan berputar sehingga aku tidak lagi atau keluar dari kehidupan fasilitator.
Hari ini, aku menghabiskan waktu bersama saudara-saudara ku se-basecamp, sampai akhirnya makan siang bersama. Setelah bubar, aku mengikuti gerak sahabat dan juga merupakan saudaraku di negeri antah berantah ini, yup.. aku ikuti mbak Dewi ke Desa Batu Dewa. Hari ini aku hanya ingin mengikuti langkahnya, aku cuma berpikir mungkin ini juga terakhir aku mempunyai kesempatan ini. Mbak Dewi, wanita perkasa, yag sangat tegar menghadapi kehidupan ini. Hmm... maaf ya, kayaknya aku banyak mengeluh, tapi ya itu tadi, hanya blog ini yang mampu menampung keluhanku. Jenuh..... itu yang ku rasa sekarang.
Huft... aku harus mengumpulkan puing-puing semangatku yang tersisa setelah terbakar oleh caci-maki kaum bos. Oh... aku merindukan team work! aku benci keadaan ini..... hiks.........


0 Comments:

Sponsor