Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Sunday, November 14, 2010

Ke-08 : Buku Sekolah

Minggu, 14 Nopember 2010

Sepulang aktivitas offline hari ini, sambil menunggu waktu sholat Magrib, aku pun membuka akun FB ku, dan kutemukan tag foto dari sahabat pemilik Blog "Putra Pejuang", Mangcek Chandra Panjinata.

Foto yang di tag itu adalah foto buku pelajaran sekolah jaman dulu (seperti di samping), dan berikut keterangan dari tag fotonya:

"Saat SD tahun 80-an, pd pelajaran Bahasa Indonesia kami sangat akrab dengan keluarga pak Madi (dgn 3 anaknya, Wati, Budi dan Iwan), semuanya serba Budi...... ini Budi, ini bapak Budi, ini ibu Budi, ini kakak Budi, ini adik Budi.....he....he... sampe sekarang masih terus ingat gaya membaca masa itu..... oh ya, ini salah satu gambar sampul buku Bahasa indonesia ketika kami SD dulu".

Hmmm... jadi teringat waktu masih Sekolah Dasar dulu. memang buku pelajaran terbitan Balai Pustaka di atas sangat populer dikalangan pelajar Sekolah Dasar,
semuanya pasti tahu dan ingat buku-buku ini ( jaman dulu  anak sekolah yang petama kali bisa membaca ya karena Buku Keluarga si Budi ini-red), dan enaknya kalau jaman dulu, buku-buku ini sifatnya dapat diwariskan. Yup, waktu Sekolah Dasar (SD), aku memakai buku warisan dari kakak tertua dan kakak nomor dua ku. Memang umur kami tidak terpaut jauh, kakak tertua ku umurnya setahun lebih tua dari kakak yang nomor dua, dan umurku dengan kakak yang nomor dua hanya terpaut dua tahun.

Jaman dulu, buku pelajaran yang bersifat warisan sangat populer. Semua anak menjaga dengan baik buku yang dimilikinya, disampul rapi dengan harapan bisa dipakai oleh adik-adiknya, karena itu dari kakak tertua sampai aku bisa kenal dengan yang namanya "Budi", wkwkwkwkwk

Kemudian, (kalau tidak salah-red) mulai kelas 2 SD, ada pergantian sistem pendidikan di Indonesia yang namanya CBSA-Cara Belajar Siswa Aktif, dan mulai saat itu juga buku-buku tadi tidak terpakai lagi, diganti dengan terbitan baru. Entah, sudah berapa kali sistem pendidikan di Indonesia berubah terhitung saat itu sampai sekarang, tapi yang pasti aku teringat terus keluhan kaum orang tua yang kecewa karena setiap ganti tahun pelajaran, setiap tahun juga harus memakai buku baru.

That's Ok! hidup mesti berubah berdasarkan kemajuan jaman. Dan memang sistem pendidikan di jaman sekarang berbeda jauh dengan sistem pendidikan jaman dulu. Kalau dulu aku waktu SD suka sekali bolak-balik ke Perpustakaan Sekolah untuk meminjam Buku Novel Serial Lima Sekawan (sampai pernah kena tegur ibu guru yang jaga perpustakaan karena aku setiap hari pinjam buku novel). Kalau anak-anak sekarang lebih suka menonton televisi atau video online, kalau aku tanya kenapa? mereka biasanya bilang, "Belajar lewat media audio visual itu lebih cepat masuk ke otak", hmmm... benar juga... ^_^

Di jaman aku SMP (Sekolah Menengah Petama), aku masuk ke SMP Swasta karena NEM (Nilai Ebtanas Murni) ku dibawah standart SMP Negeri (>30,00). Alhamdulillah, aku diterima di SMP Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Tunas Bangsa. Karena yang sekolah kebanyakan dari kaum yang golongan menengah ke bawah karena biaya pendidikannya tidak mahal dibanding sekolah swasta lainnya di kota Palembang, mungkin ini juga yang menyebabkan banyak etnis China (dari golongan petani) yang padahal bukan beragama Islam masuk sekolah ke SMP  ini  .

Di SMP ini, kami diajarkan untuk belajar secara sederhana, kami tidak pernah diwajibkan membeli buku apapun di sini. Siapa yang punya buku sesuai kelas, boleh dibawa walaupun penerbitnya berbeda-beda. Gurunya juga menurutku sangat profesional dalam mengajar, teringat aku kata pak Edi guru Bahasa Indonesia: "Setiap Tingkatan Kelas memiliki silabus yang sama, jadi buku apapun yang menjadi pegangan itu baik, malah berbeda penerbit akan membuka wawasan kita untuk melihat keunggulan tiap buku masing-masing". Jadi, karena itu... kami satu kelas kadang membawa buku pegangan yang berbeda-beda dan akhirnya mendiskusikan materi yang berbeda, kalau sekarang bisa dibilang kami melakukan bedah buku.

Di sekolah ini, karena memang tidak diwajibkan membeli buku (karena buku adalah benda yang mahal), maka transformasi ilmu salah satunya adalah dengan cara mencatat. Tapi tenang sob, mencatat ini bukan mencatat buku sampai habis, tapi Guru-gurunya memberikan catatan inti pelajaran dan catatan ini sangat mudah dimengerti, bukankah sebuah ilmu bukan untuk di hapal, tetapi untuk dimengerti? dan Sebuah Ilmu yang dimengerti pasti tidak akan pernah dilupakan seumur hidup.

Aku juga kadang merasa pilu ketika tidak sengaja mendengar keluhan para orang tua yang merasa terbebani membeli buku atau Lembar Kerja Siswa (LKS), bukankah terkadang LKS itu menjadi senjata bagi Guru-guru yang malas (maaf-red). Dengan ada LKS, ada kesempatan Guru itu tidak masuk kelas, alasannya sih kasih tugas gituuu........

Sekarang ini, dunia sudah sangat berbeda... Perkembangan ilmu pengetahuan juga sangat maju, berbagai media bisa digunakan untuk mendapatkan ilmu, dan ini juga menjadi tantangan berat untuk seseorang yang berprofesi Guru, apakah hanya akan mejadi guru profesi atau benar-benar menjadi guru profesional?


6 comments:

Djangan Pakies said...

Assalamu'alaikum Ami..
Waow jadi teringat pelajaran kelas 1 SD maklum pakies generasi jadul hhh
Bahkan dulu di FB 2 tahun lalu kutipan favorit di profil aku tulis Ini Budi Ini Ibu Budi, Ini Wati dan Ini adik Budi
Jaman sekarang malah lain, ini Laptop budi, ini laptop kakak budi, ini laptop nenek budi . fiuhhhh segalanya yang berhuungan dengan namanya sekolah ujung-jungnya duit. sekolah makin mahal, kualitas tidak sebanding. Mending jaman wiro sableng, ilmu dilatih tiap hari dengan tekun yang akhirnyajadi sakti

DenBaGas said...

Salam
Kalimat terakhir saya suka mba'e..
"...apakah hanya akan mejadi guru profesi atau benar-benar menjadi guru profesional?"
Mohon opininya untuk yg satu ini kawan..

Salam kawan

M. Chandra Panjinata said...

.....sayangnya sekarang, pendidikan kebanyakan dijadikan ladang bisnis semata, hingga tiada lagi wibawa guru dimata murid dan wali murid. Mungkin ini yg menyebabkan ilmu jaman sekarang kurang begitu melekat diingatan anak didik

tiwi said...

asswrwb...ini Budi, ini ibu Budi, jd ingat pas SD dl..heheh, btl skl, ilmu bkn u dihafal, tp lbh dipahami dan diterapkan. sy sndr sbg ortu menyadari bhw u mendptkan pendidikan yg terbaik membuthkan biaya yg tdk sdkt jaman skrg, mulai dr jenjang pendidikan plg rendah...TK sdh hrs mengeluarkan biaya yg tdk murah. Mdh2an sj ada solusi di ms mendtg, hingga pendidikan muarah, kualitas bagus bs dienyam slrh lap masy kt, Amin. wassalam..

nyayu amibae said...

>> pakies : waalaikumsalam...aku suka kata kunci dari pakies " perlu ketekunan"....

>> Den Bagas : hmmm.. jawabannya, nanti saja ya.. di posting selanjutnya,hehehehe

>> Mangcek chandra : hmmm...begitulah... jadi PR kita bersama...

>> Sista Tiwi : Waalaikumsalam... Jadi PR kita bersama sekarang sis, untuk melakukan sebuah reformasi....

ica puspita said...

wah senangnya mengenang masa lalu...
iya saya ingat, buku jaman SD dulu bisa turun temurun. dulu saya malah sering iri lho sama teman2 yang dapat buku warisan. kenapa? karena banyak coretan contekannya :D
jaman SMA juga masih ada beberapa buku lama yg masih jadi acuan guru2, jadi kangen masa sekolah.

salam kenal,
ica puspita