Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Sunday, September 18, 2011

Hujan Pertama (Bagian-1)

Ku pandangi hujan deras yang tiba-tiba jatuh membasahi tanah tandus sore ini, hujan pertama setelah kurang lebih dua bulan Kota Nenas ini tidak di sentuh sang hujan. Dulu aku pernah dan sampai terpikir, apakah Dia sudah marah kepada umatNya yang sering tidak bersyukur ini? Aah..  pikiran asal yang keluar dari otak ku itu segera aku buang jauh-jauh, karena aku yakin, Dia tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatNya, bukankah Dia mempunyai sifat Ar-rohman dan Ar-rohim?

Sesekali angin bertiup sepoi-sepoi membawa titik-titik halus sang hujan bersamanya. Tubuh ku bergetar dingin, ada sedikit sesal dihati kenapa hari ini aku dengan sengaja meninggalkan mantel hujan dan jaket yang biasanya selalu aku bawa dan aku pakai. Ya, aku sangat menyesal sudah berpikir sesuatu mendahului Dia, sungguh aku sangat menyesal telah berpikir kalau Dia tidak akan menurunkan hujan, Aku telah bersuudzon kepada Dia, Ooh Robb!! Ampuni aku! Teriakku hanya terdengar di relung hati.

Aku menggeser posisi duduk ku di bangku panjang yang terbuat dari kayu ini, untuk mencoba menghindari titik-titik hujan yang tertiup ke arah ku. Aku sangat bersyukur bisa mendapatkan tempat berteduh ini sebelum seluruh tubuh ku terguyur sang hujan saat dalam perjalanan pulang dari acara  ku sendiri yaitu keliling-keliling santai. Sebuah warung kayu sederhana yang sedang tutup telah menyelamatkan ku dari basah kuyup.

“Permisi nak, boleh bapak ikut berteduh di sini?”, sebuah suara sayu menghentakkan ku dari lamunan. “Silakan pak,, silakan,, aku juga menumpang berteduh di sini,,” ujar ku sambil sedikit bergeser ke pinggir bangku panjang. Ku pandangi sosok bapak yang sibuk membenahi barang bawaannya di hadapan ku sekarang. Ia membawa sebuah bakul berukuran lumayan besar yang terbuat dari anyaman bambu tertutup kain usang tapi bersih berwarna kuning.

“Pulang berdagang pak?”, tebak ku untuk mencairkan suasana yang membisu. “Baru mau berangkat dari rumah nak,  eeh,, tiba-tiba hujan deras!”, jawab sang bapak dengan ramah. “Dagang apa pak?”, Tanya ku sambil memandang bakul bambu yang tutup nya sekarang sudah dilapisi plastik bening. “tape singkong nak!”, jawab sang bapak tetap dengan muka ramah nya. “Buatan sendiri?”,Tanya ku berlanjut. Sang bapak tersenyum dan menganggukkan kepala.

Ada banyak pertanyaan yang langsung berputar di kepala ku, tapi ku urung kan pertanyaan itu ketika ku lihat ada  air mata yang mengalir di wajah ramah itu. Ya, betul,, bapak pedagang tape singkong itu menangis, aku tertegun memandangnya sampai akhirnya sang bapak sadar diperhatikan, ia pun mencoba menyeka air mata nya sambil mengalihkan tubuhnya membelakangi ku. Aku terdiam,  ingin rasanya aku bertanya kenapa kiranya sang bapak menangis, tapi aku tak mampu melakukan apa pun melihat fenomena ini, bersama derasnya hujan, aku hanya bisa melihat tubuh sang bapak yang sesekali bergetar karena menangis sesegukan. (bersambung...)

3 comments:

Djangan Pakies said...

wah prabumulih udah ujan nggih Mbak, Blitar malah belum ...

terharu dan terhanyut dalam nuansa hati Bapak itu yang berdialog hati karena belum bisa mengumpulkan hasil penjualan, sementara di rumah telah menunggu perut yang dengan ikhlas menahan lapar (menduga saja)

iffa hoet said...

Ahhhhh...ikutan sedih, tapi tak lanjut ke bagian 2 ah hehehe *mumpung masih bawa tissue huehue*

Bella Gemilang said...

kakak, suka hujan juga ya? Bella baru baca yg ini. belum selesai semua. :D