Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Monday, December 31, 2012

Di Beranda Pondok

Puntung rokok mengepulkan asap di jepitan ibu jari dan jari telunjuk, mungkin hanya tinggal tiga hisapan lagi, puntung rokok yang ditemukannya di bangku taman tadi sore itu akan habis kenikmatannya.
 
"Aah,, tak terasa sudah malam tahun baru lagi!", gumamnya sendiri sambil duduk di beranda pondokkan memandang langit yang menghitam. Sesekali ia melipatkan jaket lusuh yang kancingnya sudah rusak menyelimuti tubuh  yang renta saat sang bayu menggoda dengan hawa dingin yang berhembus.
 
Suasana di sekitar nya begitu senyap, hanya terdengar sayup-sayup suara kembang api yang berasal dari  komplek perumahan sebelah kampung nya. Hampir semua penduduk di kampung nya pun berbondong-bondong ke alun-alun kota untuk memeriahkan dan ikut menyaksikan kemeriahan malam pergantian tahun. "Ada artis ibu kota yang datang, pasti manteb banget deh, rugi kalau tidak ke sana!", kira-kira begitu obrolan yang ia dengar saat melintas warung pak Amat menuju pondoknya sore tadi.
 
Suara kembang api dari komplek perumahan sebelah suara nya semakin menggelegar bersahut-sahutan, hmm,, yang ia tahu, harga kembang api ternyata tak murah, harga nya beragam tergantung jenis. Harga termurah dari kembang api itu hampir sama dengan penghasilan yang ia dapat selama 2 atau 3 hari memulung. "Kira-kira sudah berapa banyak ya uang yang dibakar melalui si kembang api?", ujar nya seraya menghitung-hitung sudah berapa kali suara dentuman kembang api berkumandang.
 
Sang bayu kembali menggelitik, puntung rokok pun telah dimatikan, gelapnya malam yang meriah oleh suara alunan sahut-menyahut dentuman kembang api memaksanya untuk beranjak dari beranda. Tubuh ringkih  yang penat meminta nya untuk kembali ke peraduan mengisi malam pergantian tahun.

8 comments:

munir ardi said...

memang kalau disumbangkan hasil kembang api dan mercon mungkin bisa mengentaskan kemiskinan berapa orang biaya tahun baru ini

Jadwal UN SD SMP SMA said...

setuju sama bang munir ardi, itu juga bisa mengurangi dampak negatif globalisasi. Pelebaran Lubang Ozon.

Angga Zulika Ramadhani said...

Sejak kelas 1 SMA gue, sudah stop tuh ngerayain tahun baru dengan tar..tur..tar..tir, ya u knowlah itu.

Emang miris aja, sampe nafsu banget... ngerelain uang banyak cuma untuk hiburan semata, aaah... entah kemana pola pikir manusia saat ini :'(

semoga, jadi pelajaran berharga. Great postingan.

Yayack Faqih said...

tidak hanya pada sebatas kemeriahan, pesta dan kembang api. pergantian tahun akan selalu bersenyawa dgn batas kematian. mari sejenak menabung resolusi pada investasi yg lebih abadi, dengan berpahala__karena bumi sudah mulai menua.

Halaman Samping-nya Inung Gunarba said...

membakar mercon dan petasan seperti juga membakar uang lewat rokok :) waktu malam tahun baru kemarin, kami juga memilih di dalam rumah saja, nonton DVD hehehe...

Gaul Blogger said...

salam mbak rahmi.. mampir ya

Nakusan Bali Technology said...

seperti buang-buang uang membeli kembang api..hehehe

thanks sob infonya dan salam kenal.

Obat Demam Untuk Anak said...

Keren banget nih ceritanya.. ikutan berkunjung gan, salam kenal :)