Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Wednesday, November 18, 2015

Tarian Jemari Sosialisasi



Beberapa hari yang lalu melalui broadcast di BBM, aku mendapat sebuah pertanyaan untuk sosialisasi sebagai berikut:


  • Kapasitas apa yang dibutuhkan oleh tim korkot dan tim fasilitator untuk sosialisasi?
  • Media apa yang cocok digunakan untuk sosialisasi kepada masyarakat
  • Agen sosialisasi yang paling strategis dan potential di PEMDA dan masyarakat siapa?

Memang terlihat simpel karena hanya terdiri dari tiga pertanyaan, tetapi tiga pertanyaan ini juga merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selalu silih berganti bermain di alam pikirku.


Selaku TA Sosialisasi  yang mempelajari dunia sosialisasi secara otodidak dan untungnya memiliki para Senior baik hati  berada di OC-02 Provinsi Sumatera Selatan dan KMP, menjadi tantangan tersendiri bagiku untuk melakukan tugas sesuai dengan MSAP yang telah ditetapkan.

Sebagaimana diketahui, pengertian sosialisasi adalah proses pembelajaran seseorang untuk mempelajari pola hidup sesuai nilai, norma dan kebiasaan. Dalam lingkup tugas kita artinya proses seseorang/masyarakat mempelajari program.  Pengertian ini menggaris besarkan kata “proses”, hal ini berarti sosialisasi memang membutuhkan sebuah proses, dan proses ini adalah hal paling penting dalam menentukan  keberhasilan program dalam mencapai tujuannya.

Sebelum bicara proses, permasalahan kapasitas pelaku khususnya tim Korkot dan Tim Fasilitator untuk melakukan sosialisasi  menjadi hal pertama yang harus disorot, betapa lucunya bila prajurit pergi berperang tanpa membawa senjata apapun. Sang prajurit akan berperang dengan irama masing-masing, ada yang berlari cepat karena berhadapan dengan musuh yang mudah ditaklukkan, tapi juga ada yang terseok-seok bercucuran air mata karena bernasib jelek harus berhadapan dengan musuh yang mempunyai ilmu cukup mumpuni. Halaah, kenapa alur cerita nya kayak  film perang ya,,,hehehe .

Tapi ini adalah kenyataan yang dihadapi program, seperti sebuah pengakuan dosa (khususnya pengakuanku selaku TA Sosialisasi otodidak)  banyak sekali tim korkot dan tim fasilitator yang melakukan proses sosialisasi dengan kapasitas yang sangat minimalis. Seperti perputaran jarum jam, semua melakukan kegiatan sosialisasi yang hampir sama setiap tahunnya, berulang-ulang dalam waktu yang menahun. Akibatnya, Substansi kegiatan sosialisasi yang dilakukan terbang seperti angin lalu, rasa jenuh  pun merajalela tak hanya dikalangan tim korkot dan tim fasilitator, tetapi ditingkatan masyarakat dan PEMDA pun demikian. Dan  yang lebih parahnya, seperti sebuah perangkap membentuk  “lingkaran setan rasa jenuh” pun berevolusi menjadi sebuah monster yang paling berbahaya, yaitu bekerja/melakukan kegiatan dengan prinsip ABS ( Asal Bapak Senang).

Teringat di era program tahun 2006-an, ketika sosialisasi yang sering mengibaratkan istilah “sebuah gelas penuh”, sebagian besar pelaku program pun sekarang dalam kondisi yang sama (tak menutupi untuk dijajaran Tenaga Ahli). Proses belajar dan pembelajaran pun ditepiskan, yang dikejar adalah progres dan progres. Kiblat keberhasilan sekarang adalah penyelesaian setiap progres, dan alhasil kuantitas pun terpenuhi tetapi kualitas menjadi sebuah pertanyaan.

Gelasnya sudah penuh, tapi program juga tak mungkin melakukan “reinstall” mengingat betapa besar asset program  telah  dimiliki (dalam tanda kutip “begitu banyak uang yang telah dihabiskan untuk membiayai asset program) yang  walaupun asset tersebut sekarang sedikit banyak telah bercampur dengan “virus” yang cukup membuat lelah.

Dan kapasitas apa yang dibutuhkan oleh tim (korkot dan fasilitator) untuk bersosialisasi?

Teringat materi pelatihan dasar yang diberikan oleh Alm. Ishak Nur (Mantan TA Pelatihan Provinsi Bengkulu). Dalam materi Kualitas Manusia Sejati, pada diagram dikatakan bahwa manusia terbagi menjadi empat, yaitu:

  1. Manusia yang mempunyai sifat-sifat baik, dan kapasitas tinggi akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk kepentingan sesama. Manusia  ini yang paling bermanfaat bagi sesama.
  2. Manusia yang mempunyai sifat-sifat baik, dan mempunyai kapasitas rendah, kebaikkannya hanya akan berguna bagi dirinya. Kalaupun bermanfaat bagi lingkungan tidak akan terlalu besar,
  3. Manusia yang mempunyai kapasitas tinggi, akan tetapi berprilaku buruk, akan menjadi licik dan merusak bagi lingkungan. Manusia seperti ini sangat berbahaya;
  4. Manusia yang empunyai sifat-sifat buruk dan kapasitas rendah, tidak akan berguna bagi lingkungannya bahkan mungkin untuk dirinya.
Dari diagram diatas mari dipetakan terlebih dahulu,  saat ini tim (Korkot dan Fasilitator) berada diposisi mana? Bila di posisi 1 (satu) artinya Selamat, dan yakin semua akan berjalan lancar jaya. Namun, bila tim berada diposisi 2 (dua), artinya tim ini masih membutuhkan penguatan kapasitas untuk mengembangkan diri agar bisa lebih bermanfaat besar bagi masyarakat. Lalu bagaimana bila Tim berada di posisi 3 (tiga)? Hiks, ini loh yang ngeri-ngeri sedap, karena sebuah “dilema gelas penuh” akan terjadi. Kalau posisi 4 (empat) tak perlu kita bahas dan semoga tim kita tak ada diposisi ini, aamiin. :D

Baik, mengingat para TA sosialisasi lain sudah pada buat PR dan saya masih “refreshing” menikmati tarian jemari diatas keyboard si lepi sembari mendengarkan lagu-lagunya Yopie and Nuno, kita focus ke pertanyaan pertama. Untuk tim yang berada diposisi 2 (dua) kapasitas yang dibutuhkan untuk melakukan sosialisasi yang pertama dan utama adalah “motivasi melakukan sosialisasi”. Kita sadari bersama, di program tak banyak yang mempunyai kemampuan untuk memberikan motivasi, padahal “Mau” adalah kunci pertama  untuk melakukan sosialisasi.  

(bersambung)

 

No comments: