Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Monday, August 16, 2010

Ke-07 : Ikhlas

Senin, 16 Agustus 2010




"Ikhlas" adalah kata yang sangat sederhana, hanya terdiri dari enam huruf. Mudah untuk disebutkan, tapi terkadang sangat sulit untuk dilakukan. karena ikhlas tidak hanya berasal dari pikiran yang kemudian akhirnya menjadi sebuah produk ucapan melalui lidah. Tapi ikhlas berasal dari hati.

Pernahkah sobat mendengar lagu shine on yang dinyanyikan oleh Dewa? kira-kira kutipan liriknya begini:

Apa yang kamu Yakini sebagai…sebuah kebenaran Mungkin.. Bukanlah… sebuah kebenaran Buat yang lainnya

Lagu ini sangat menjadi inspiratif untukku, karena terkadang aku sudah begitu yakin dengan apa yang aku lakukan, inilah yang paling baik! tapi ternyata keyakinan ku yang menurutku paling baik terkadang tidak bisa diterima dengan baik juga untuk orang lain, dan merupakan sebuah hal yang sulit untuk dapat menyeragamkan arah pikiran (paradigma) orang lain menuju paradigma yang kita yakini.

Terkadang dengan sangat ego-nya, aku bertahan dengan keyakinan ku di lapangan, aku membawa ego ku, bertahan dengan pendapat " suatu penyakit tidak akan sembuh bila sang dokter mengikuti keinginan pasien". Sering berhasil, sikap tegas ini memang bermanfaat, tapi apakah selamanya sang dokter akan selalu benar analisanya? apakah keluhan sang pasien tidak menjadi sebuah pedoman juga untuk proses penyembuhan?

Manusia itu tidak ada yang terlahir sempurna, sebaik-baik orang pasti ada kelemahan dalam dirinya, begitu juga seburuk-buruk orang pasti ada kelebihannya, bagaimana bisa aku menjadi sombong?

Aku teringat pertanyaan seorang sahabat mengenai gelar ST yang aku sandang? Sarjana Teknik Kimia kok jadi Fasilitator? dimana hubungannya? Apakah ilmu yang aku dapat menjadi tidak berguna alias sia-sia? Aku juga teringat selalu Abah yang meminta ku untuk putar haluan kembali ke pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmu ku, hmm.. apakah benar ilmu yang aku dapat menjadi sia-sia?

Allah Maha Besar! aku merasakan sekali kasih sayang Allah kepada ku, walau terkadang masih saja aku mendustai nikmat yang telah diberikannya. Pengalaman ternyata adalah guru yang paling berharga, dan "ikhlas" adalah sebuah kata kunci pusaka untuk menjalani kehidupan menuju kepada-Nya. Teringat aku nasehat pak Ishak Nur saat aku gundah menentukan langkah ku untuk terus maju turun ke lapangan atau menghentikannya saat masih di karantina pada Pelatihan Dasar Fasilitator tahun 2007 dahulu. Fasilitator itu ada 3 jenis setelah masuk ke kehidupan masyarakat, menjadi seperti telur? wortel? atau kopi? (Seperti pada posting ku terdahulu tentang ilmu kopi-red).

Aku tahu, tak selamanya aku menjadi seorang fasilitator, tapi sampai saat ini aku sangat bersyukur! seorang amibae yang tidak pernah tahu tentang berkebun kopi menyentuh dan mencium harumnya bunga kopi, berternak sapi, bertanam padi, bertanam jagung dan sayuran, membuat jalan usaha tani dengan berjalan menembus kebun-kebun, dan berhadapan para pedagang yang berwatak keras, sekarang ketika aku membuka pintu ikhlas ku dengan mencoba menyelami kasih sayang Allah dan meninggalkan ego ku dengan menjadi bagian dari mereka, aku merasakan nikmat yang berlimpah. Ternyata bukan aku yang memberi mereka pelajaran, sebetulnya malah aku yang banyak mendapat pelajaran dari kehidupan mereka. Ya Allah inilah nikmat-Mu yang Engkau tunjukkan kepadaku dengan memberiku kesempatan menjadi seorang fasilitator, terima kasih ya Allah.... ^_^


27 comments:

etam grecek said...

ada" aj tuh sahabatx nanya gelar ST koq jd fasilitator(xixixixixi)..

jurus ikhlas yg di terapkan mbak ami patut dijadikan contoh nh,
bnyak hikmah yg dpt ku petik untuk perubahan...

Ferdinand said...

Iya ya... yg kita anggap bener belum tentu Bener dimata orang lain hhe..... wah Teknik Kimia hho berat... waktu SMA ng'liat SPU aja aku udah puyeng.... tapi sama kaya aku tuh.... waktu itu aku juga ditanya......Dari It koQ malah kerja jadi Graphic Designer.... tapi klo aku piki2 kayanya selama yg aku kerjain ga ng'rugiin orang dan aku pun nikmatin kayanya gak salah juga ya hhe.....

Semangat.... yg penting Ikhlas ya hho... Very Inspired nie ....

pakde sulas said...

ada sesuatu yang kadang tidak disadari oleh manusia yaitu "jalan yang dipilihkan Alloh"
manusia sudah berusaha sangat keras tapi hasilnya lain (manusia mengakui sebagai kegagalan), Alloh berkendak lain, jika manusia mau menerima hasil itu dengan "ihlas" niscaya manusia akan mengetahui hikmah kegagalannya, dan Alloh akan menunjukkan suatu hasil yang lebih besar dibandingkan dengan yang diharapkan manusia itu sebelumnya.

Sang Cerpenis bercerita said...

bener..belum tentu apa yg kita anggap bener bagi orang lain bener. kebenaran adalah hal yg relatif.

tiwi said...

he3..trkadang hidup mmg hrs memilih, skrg mulai serius nih...: stlh berbagai 'experience', walo mgkn blm sebanyak 'experience' sobat yg lain...sy 'memahami' sendiri, bahwa kunci dr kt menjalani kehidupan adlh 'ikhlas alias pasrah' kpd garis Sang Khalik, seberapa kuatpun kt ngoyo/berusaha krs, tetapi sll ada faktor x yg tdk bs kt tentang,yaitu garis Sang Khalik. Dg demikian hidup akn lbh bermakna dan percayalah ada keajaiban indah lain yg sdg disiapkan Sang Khalik u kt, dlm hal ini sis Ami. Trust me...sy sdh mengalaminya sndr, bnyk skl keajaiban hadiah dr Sang Khalik yg sy terima stlh kt terapkan 'ikhlas alias pasrah' tsb...okay! pnjg bener nih komennya...weleh2 kyak postingan aja...he3...Semangat do your best, tp jgn lupa, 'ikhlas alias pasrah'kan smua pd Sang Khalik...

Pakies SM said...

>Ane yang dulunya seorang guru SMA sekarang malah jadi Pedagang. Apakah ilmu Keguruan sudah tidak berfungsi?, saya jawab tetap bermanfaat tergantung bagaimana kita memanfaatkan kemampuan yang telah kita miliki. Menjadi pedagang atau apapun prinsipnya sama, bahwa pekerjaan itu menghadapi orang lain dan kita bertanggungjawab atas pekerjaan kita pada Allah swt. Maka apabila setiap pekerjaan yang kita lakukan didasari dengan niat ikhlas untuk beribadah pada Allah, Insya Allah semua akan menjadi sederhana dalam menjalaninya, setiap tantangan hidup akan kita hadapi dengan keikhlasan dan semangat.

Akoey said...

Ihlas, adalah tingkatan ilmu yang paling sulit dicapai.
subhanallah...
nice post.. :)

CORETAN HIDUPKU said...

Sabar saja. Terus tingkatkan pengetahuan meski basic dasar pendidikan kita waktu kuliah berbeda. Insya Allah akan terlatih dan menjadi mahir

windflowers said...

ya..ikhlas menjadi kunci utama dalam hidup, agar senantiasa mampu bersyukur bahwa apa yg kita dapat adalah tidak sia2...

etam grecek said...

mencoba tuk belajar ikhlas mengjalani hidup ini....

merdeka!!!!
merdeka!!!!

karzanik said...

Walaupun gak begitu berhubungan dengan ilmu yg dudapat saat dibangku kuliah....
tapi denagn fasilitator, sangat bermanfaat dan dibutuhin sama masyarakat...

Yup betul kuncinya Ikhlas,,percayalah,,bahwa Allah memberikan rezeki yang terbaik untuk hambanya....

Ferdinand said...

Siank .. aku datang lagi hhe..... hari Ke-17 MERDEKA!!!!

pokoknya apapun yang kita kerjain sekarang ya Ikhlas aja.. wah pak Ies aja dari guru jadi pedagang he...

Sukses slalu...

masor said...

serta ikhlaskan dirimu untuk mengunjungi blog diriku

Herry Ir. said...

Ikhlas yg sebenar2nya Ikhlas memang sulit, terkadang selalu saja ad rasa pamrih...

rita asmara said...

kunjungan silaturahmi.. apa kabar? met menjalankan ibadah puasa..

gardoe djaga said...

Saya memang baru senang bicara'proses'. Dan itu sedikit banyak memberikan cara jadi ikhlas. Karena apapun yang terjadi, itu bukan proses mereka untuk 'menjadi', tetapi adalah selalu proses kita untuk 'menjadi'.

Coba ajukan pertanyaan, apakah pembangunan di sana tidak akan berlangsung tanpa kehadiran 'kita'?. Saya yakin Alloh akan mengirim orang lain bila 'kita' tidak di sana.

Jadi.. Siapa yang perlu siapa?.

Sudilah tengok blog saya, hiks, ada surat dari mujahid akhwat yang menampar kesadaran saya sekeras kerasnya... Bisa jadi Ami sudah pernah baca.. tapi tengok saja...

OEN-OEN said...

ada salah satu filosofi ikhlas yaitu jika kita merasa ikhlas maka perlu dipertanyakan lagi keikhlasan qta, rumit kn ya, hehe..

never give up, tak ada yang mudah dalam hidup ini tapi bukan berarti semua hal tidak bisa kita lakukan, happy nice day

Halaman Samping-nya Inung Gunarba said...

Ikhlas bagiku seperti rahasia rasa nikmat dariNya. Ketika tangan kita terulur ada perasaan plong dan ringan, meski yang kita beri hanya sedikit :)

Kagek mudik Plembang, bi'?

AkuInginPulangDiKalaSenja said...

Ada banyak hal yang bisa kita dapat kalau ikhlas dan pastinya bersyukur dengan itu semua ^_^

Apa kabar kak? Maaf baru bisa mampir lagi kesini ya

BUNTU said...

Ikhlas...

prilaku yg paling sulit ...

Semoga saya bisa berjuang menjadi org yg ikhlas...

salam kenal...follow this blog from UTARA

TRIMATRA said...

setuju,,,setujuh dan sangat setujuh banget aku dengan pendapatmu.

mari kita ikhlaskan hati...

Sukadi Brotoadmojo said...

pendirian yang luar biasa, sebuh pemahan hidup dari sudut pandang yang lain...
tetep semangat mbak, yakin saja dengan jalan yang sudah dipilih... ikhlas dan bersyukur atas segala nikmat dan karuniaNYA...
salam..

Muhammad Taqi said...

ane mau bilang, mantab gan :)

mas kholiq said...

bernar tuh kita itu dalam menjalankan kehidupan harus di iringi rasa ikhlas,,

TUKANG CoLoNG said...

bila semua orang selalu bersyukur dan ikhlas..alangkah indahnya hidup ini..:)

gaelby said...

Thanks buat pencerahannya dek !
"Manusia itu tidak ada yang terlahir sempurna, sebaik-baik orang pasti ada kelemahan dalam dirinya, begitu juga seburuk-buruk orang pasti ada kelebihannya"
Betul betul betul... :)

Gaphe said...

Ikhlas, menerima apapun jalan yang Tuhan berikan pada kita.. Ya, pastilah jadi fasilitator akan membawa banyak hal dan membuka banyak peluang. Manfaatkan dan syukuri!.