Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Saturday, January 15, 2011

Pertama Berkendaraan di Kota Palembang

11 Safar 1432 H
Sabtu, 15 Januari 2011

Tidak terasa sudah lebih dari satu minggu aku berada di kota kelahiranku ini. Berbagai macam rasa masih terasa ketika aku keluar dari rutinitasku menjadi seorang fasilitator. Tapi hidup adalah pilihan, dan aku sudah memilih serta memutuskan, so.. mesti tetap semangat!!

Sambil mencari peluang kerja yang baru, rutinitasku salah satunya adalah mengantar si bungsu ke kantornya di pagi hari. Lumayanlah, hitung-hitung menambah jam terbangku berkendaraan di kota Palembang ini.

Aseli!!! pengalaman hari pertama aku mengantar bungsu, sangat-sangat mengejutkanku! Ternyata kota Palembang ini sudah berbeda jauh keadaannya dibanding 4 tahun sebelum aku tinggal ke Curup dulu. Dan, salah satu yang mengejutkanku adalah fenomena "macet".


Dasar aku orang kampung yang datang ke kota, rasanya gimana gitu... yang tadinya di kota curup aku berkendaraan dengan santainya, sesampai di sini aku harus mengikuti arus pergerakkan berkendaraan orang kota yang aseli membuatku merinding.

Perjalanan awal yaitu dimulai waktu aku keluar dari rumah, karena rumahku melewati terminal Perumnas Sako, maka keluar dari terminal pun aku sudah dihadapi dengan kemacetan. "berbekal pengertian kepada si bungsu, kalau jalannya pelan-pelan saja", kami berjalan santai mengikuti arus kemacetan walau terkadang emosi ku sedikit bermain untuk mendahului angkot dan bis kota yang sering berhenti sembarangan mencari penumpang.

Kemacetan yang paling menonjol adalah terjadi di simpang Patal. Kendaraan seperti sudah terprogram untuk saling mendahului, padahal sudah tahu lampu merah, kok ya budaya semut untuk antri masih saja dikesampingkan. Aku dan bungsu hanya bisa cengir-cengir kuda ketika melihat para pengendara motor yang mengambil tepi badan jalan untuk berkendaraan, padahal tepi jalan itu rada becek karena malamnya kota Palembang di guyur hujan. Semua berusaha untuk saling mendahului, kejar tayang.. begitu kata mereka. Yang paling hebat lagi, para pengendara motor itu bisa menyusup di antara dua tiang listrik yang sempit sekali, oalaaah... aku acungkan jempol 10 kali dah... !!! dan terakhir, dari aksi itu sebuah mobil kijang ikut-ikutan menyusup di tepi jalan, dan otomatis.. kegiatan susup-menyusup itu terhenti karena mobil tersebut sendiri akhirnya menyebabkan kemacetan. Kemudian si hitam (motorku), aku dan bungsu pun melaju mengikuti pergerakan kendaraan setelah lampu menunjuk ke warna hijau, meninggalkan pemandangan kemacetan di sisi jalan tersebut.

Sampai di rumah, aku sedikit merenung.. wuahaha.. ternyata emang aku ini sudah berubah menjadi orang kampung, kok melihat kemacetan saja kayak orang aneh...Gubrak!! ga kebalik apa orang lain yang pasti aneh melihat sebuah motor yang berdiri anteng menunggu lampu hijau tanpa niat menyusup sekali pun, tapi ga apa lah, si hitamkan nopol nya masih nopol Bengkulu jadi pasti orang-orang pada maklum, hahahaha.

Trus... ini posting maksudnya apa?

hahaha.. ga ada maksud apa-apa sob, aku memang hanya ingin menceritakan pengalaman pertama ku berkendaraan di kota Palembang. Hmm.. dan menurutku, kemacetan itu tidak mesti terjadi, bila berkendaraan seperti pengalaman ku di Curup.

Kok bisa ?

Ya iya,, coba deh masing-masing pengendara mau memakai "ilmu semut", pasti berkendaraan akan aman. Sebenarnya aku paham, para pengendara melakukan aksi susup dan salip itu dkarenakan berkejaran waktu masuk kantor atau sekolah. Tapi coba kalau pengendaranya sedikit bisa memanajemen waktu, yaitu melakukan perhitungan waktu yang tepat untuk menempuh berkendaraan ke kantor, pasti juga tidak perlu berlaku seperti dikejar-kejar setan gitu. Dan satu lagi, budaya tertib memang ternyata agak sulit untuk dilestarikan di kota besar. Kalau di Curup, sikap menghargai itu betul-betul tertanam (secara lah orang kampung). Malah kalau di curup, bila berpapasan dengan orang yang dkenal, otomatis kita saling menyapa dengan membunyikan klakson, kalau di sini (kota).. orang membunyikan klakson eeh,, plus marah-marah!! hahaha... demikianlah asal cerita ku hari ini,  Hmm.. sepertinya aku akan merindukan cara berkendaraan di curup... ^_^

15 comments:

DuniaPiyen said...

macet juga ternyata di palembang....

Adit Mahameru said...

Alhamdulilah aku di Prabumulih...hahahahhaha...macet?....ah blom lah prabu...seger? iya....ganteng? cuma aku di Prabu..kwkwkwkkww

Herdoni Wahyono said...

Kota Palembang telah berkembang maju dengan cepat dan salah satu 'problem'nya adalah terjadinya kemacetan lalu-lintas pada ruas jalan dan waktu tertentu. Kami tidak mengalaminya di Magetan yang terletak di lereng timur Gunung Lawu. Kemacetan hanya terjadi sekali setiap tahun yaitu menyongsong datangnya tahun baru, itupun hanya di sekitar aloon-aloon Magetan.
Walau telah 65 tahun bangsa Indonesia merdeka, namun 'budaya tertib berlalu lintas' masih amat jauh dengan negara maju. Masih belum banyak yang memakai 'ilmu semut'. Kalau begitu kadang kita kalah dengan semut. Karena tidak memakai 'ilmu semut' maka korban kecelakaan lalu-lintas baik tewas maupun luka-luka, angkanya amat mengerikan. Harus hati-hati, waspada, mematuhi rambu lalu-lintas, dan nyalakan lampu walau siang hari (bagi motor roda dua) serta pakai helm standar.

Djangan Pakies said...

jalan + kemacetan + emosi biasanya berbaur menjadi satu kesatuan, di sini akan diuji siapa yang sabar dan siapa yang mudah emosi, tul ndak?

tiwi said...

Asswrwb...ehehhe, akhirnya posting perdana Palembang!..hmmm 4 thn Palembang mengalami perubahan yg pesat rupanya, paling tdk dr segi transportasinya..skrg jd..macet!..heehhe, berarti ekonomi tumbuh dung sis, bagus itu..hehehe, tp mestinya sih gak usahlah pake budaya serobot ya, aku jg sebel kl ada org yg seenaknya aja di jln raya, beda bbrp detik aja kok maen klakson keras2! emangnya cm dia yg mau lewat..budayakan tertib berlalu lintas!...well, met jalan2 lg ya sis...ati2 jgn lupa pk helm..eheheh

mey said...

palembang? curup? wah rupanya kita sebangsa ya...jgn2 sodara pula ya hehe

salam sy

kbr melegakan tlh dirilis http://pedulisausan.blogspot.com/ tetap mhon do'anya

k.o.s/Komunitas Online Sragen said...

wah ada macetnya juga ternyata dipalembang...salam kenal sobat.ijin folow ya..

Adi Akmal said...

Sama dunk dgn di kota sy (Makassar)
kdg yg bikin macet nyelip sana sini...
btw jumlah volume kendaraan kayaknya semakin edan deh pertambahannya....
jd gitu deh
setiap jam 7 pagi sama jam 5 sore macet abiss....

pakde sulas said...

4 tahun meninggalkan kampung halama adalah waktu yang cukup lama, jadi kalo ada peruhan suasana kota adalah suatu yang wajar

asal jangan sampai lupa arah menuju rumah he he he...

Nyayu Amibae said...

>> sob dari dunia piyen : wah... trims kunjungan baliknya.. iya, palembang macet,hehehe

>> dek adit : wuahahha.. bener tuh prabu ga macet, tapi manis kayak rasa nenasnya...hahaha.. kok bisa GR gitu bilang ganteng.. gubrak bener!!! wkwkwk

>> pakies : betul betul betul...

>> sista tiwi : waalaikumsalam.. hehe, sesuai pesanan sis.. tapi ya baru ini yang bisa aku ceritakan... blm banyak... wkwkwk

>> sista mey : wah,, semoga kita memang saudara ya... hehehe,,, ngarep!! :)

>> sob dari kos : iya.. apaka sragen macet juga? salam kenal juga dan terima kasih sudah di follow... :)

>> sob adi : iya... sahabat2 ku yg di makasar juga bilang gitu,,, waktu mereka ke palembang kata mereka mirip sekali dengan makasar,, bedanya kami ga ada pantai losari... hehehe

>> pakde sulas : hehehe,, tenang saja pakde, sekarang malah aku sudah lumayan tahu jalan tikus biar ga kena macet... wkwkwkwk

Berpikir Positif said...

macet sudah menjadi sesuatu yang harus dinikmati sehari-hari sekarang kota kecil aku saja sering macet sekarang neng, maaf ya sering nggak kemari he he

TUKANG CoLoNG said...

jadi inget berkendara peryama kali dan terakhir kali ampe sekarang di bandung..:(

Tomo said...

kunjungan balasan.
rame juga kotanya ya

Ma'arif said...

wah, palembang dah kya medan sekarang

MP3 Gayus Tambunan : Andai Aku Jadi Gayus Tambunan "Bone Paputungan" Download said...

Trus Sekarang Masih di Palembang Ya ?