Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Thursday, February 10, 2011

Air Mata Nek Ifah

7 Rabiulawal 1432 H
Kamis, 10 Februari 2011


Duh.... kelamaan ya aku ga update, maklum kebanyakan bertapa untuk cari wangsit, eeh,, wangsit ga dapet malah pangsit yang diembat!! hehehe.

Tuk sahabat-sahabatku yang masih setia datang ke blog ini, terima kasih banyak ya... Untuk sista Tiwi, Piss!!  lagi aaahh!! ceritanya masih belum jadi,, kemarin adonannya ga ngembang!! wkwkwkwk. 

Oh iya, Bang Pendi, eh salah,, Bang Noer kasih aku Award's ya.. hufft.. awardnya sudah aku gendong pulang, tapi, masih belum sempat di pajang, maunya sekarang sih pajangnya, tapi ada pertanyaannya,, jadi kayaknya mesti posting khusus nih, semoga maklum ya,, tenang...!! insyaallah aku ga lupa... hahai...

Hmm,, ini aku ada cerita baru, dibaca ya,, ^_^


Air Mata Nek Ifah


"Nek Ifah!!! Nek Ifah!!", Susi berlari mengejar sosok nek Ifah yang sedang berjalan memikul karung plastik dipundaknya.  memang sedikit sulit mengejarnya nek Ifah, wanita tua yang telah puas merasakan pahit manis nya dunia itu pendengarannya sudah tidak terlalu peka lagi.
"Nek!!", dengan terengah-engah, susi meraih tangan nek Ifah. Nek Ifah tersentak, dia merasa kaget melihat Susi yang masih terengah-engah dan berwajah panik, "Ada apa nak?", nek Ifah bertanya dengan wajah polos. Setelah reda mengatur nafas, Susi pun langsung menyampaikan maksudnya, "Tini nek... Tini!!", ujarnya masih terengah-engah. "Kenapa dengan Tini?", Nek Ifah pun mulai panik ketika mendengar nama cucu semata wayangnya itu disebut-sebut. "Tini nek... Tini tertabrak mobil diperempatan!", ujar Susi menyelesaikan perkataannya. Nek Ifah tak dapat berkata apa-apa, selain merasa semua menjadi gelap.

"Nenek sudah sadar?", tanya Susi ketika Nek Ifah membuka mata nya dan mendapati dirinya sudah tersandar di kursi panjang dari kayu berwarna putih. "Nenek tadi pingsan, sekarang kita di puskesmas. Mang Ino dan Pak Budi baru saja membawa Tini ke sini untuk diobati", jelas Susi. 

"Bagaimana keadaannya Tini?", Nek Ifah ingin tahu keadaan cucu yang telah ia rawat sejak masih berumur dua tahun. Tini, cucu semata wayang dari anak laki-laki semata wayang nya. Kehidupannya dulu termasuk bahagia sebelum Sidi anaknya mengalami kecelakaan bermotor dan meninggal di tempat. Berbulan-bulan kehidupan mereka menjadi morat-marit untuk melanjutkan hidup, sampai akhirnya ketika Nek Ifah terbangun diwaktu Shubuh, dan mendapatkan Surat dari menantunya untuk pamit dan menitipkan Tini kepadanya.

" Tini ada di ruang periksa nek, kata pihak Puskesmas Tini harus segera dirujuk ke rumah sakit nek, darahnya banyak sekali yang keluar, sayangnya Tini tidak ada Gakin (kartu keluarga miskin), jadi sekarang Mang Ino dan Pak Budi sedang mencari cara atau pinjaman untuk biaya Tini dibawa ke rumah sakit", ujar Susi sambil mengusap-usap pundak Nek Ifah, berusaha menenangkan hatinya. " Aku ingin melihat Tini?", ujarnya lirih. Susi mengangguk, ia mengerti perasaan nek Ifah, kemudian pelan-pelan ia membimbing nek Ifah menuju ruang periksa.

Mata nek Ifah berlinang melihat keadaan cucu nya. Walau sudah diberi penanganan medis, tapi kesannya seadanya saja. Dahi Tini masih terlihat mengeluarkan darah padahal sudah diperban. "Seandainya kita bukan orang miskin Cu, pastilah nenek sudah membawa mu ke rumah sakit sekarang". ujar nya sambil meraba uang sejumlah seribu lima ratus yang ada disakunya, hari ini sedikit sekali pendapatannya memulung. Sambil menatap wajah Tini, Ia teringat kejadian sekitar sebulan yang lalu.

Hari itu, semua warga di pemukiman kumuh mendapat kabar, kalau ada himbauan dari Dinas Kesehatan kota untuk membuat  Kartu Keluarga Miskin (Gakin). Kabar yang Nek Ifah dapat tidak terlalu jelas, tapi yang ia tahu hampir semua warga di pemukiman akan ke rumah pak RT  untuk membuat kartu  yang kabarnya bisa membuat mereka mendapat pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas dan Rumah Sakit.

Bersama-sama warga, Nek ifah datang ke Rumah Pak RT untuk membuat Surat Keterangan Keluarga Miskin (SKTM) yang merupakan salah satu syarat untuk mengurus secara lanjut Proses Pembuatan Kartu Gakin ke RW, Kelurahan dan Dinas Kesehatan (kalau dalam hal ini adalah Puskesmas). Ketika sampai pada giliran Nek Ifah, ternyata Kartu Tanda Penduduk (KTP) Nek Ifah sudah kadaluarsa. Pak RT tidak bisa memberi SKTM sebelum KTP Nek Ifah di perpanjang atau dibuat KTP seumur hidup.  Hanya sampai sana lah, proses pembuatan kartu Gakin yang bisa nek Ifah lakukan, untuk memperpanjang KTP  harus mengeluarkan biaya dua puluh ribu, nek ifah tidak mempunyai uang.

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, Mang Ino dan Pak Budi belum juga datang. Berkali-kali Pegawai Puskesmas bertanya kepada Susi tentang tindak lanjut pengobatan Tini, dan berkali-kali juga Susi memberi jawaban kalau mereka sedang menunggu Mang Ino dan Pak Budi. Pegawai Puskesmas kelihatan sedikit gusar, karena tinggal dirinya sendiri yang ada di Puskesmas. semua pegawai sudah pulang semua dua jam yang lalu.

Akhirnya, Mang Ino dan Pak Budi datang, dengan suara keluh mereka berkata bahwa tidak mendapatkan pinjaman dari mana pun walau mereka sudah keliling seluruh pemukiman. Berusaha memberanikan diri, Susi pun bertanya kepada Pegawai Puskesmas, "Mbak, sekarang bagaimana?". Si pegawai puskesmas pun hanya menjawab dengan gelengan kepala.


13 comments:

Eichel ❻❻❻ said...

hikz...hikzz..jd teringt akan nenekku..;)

btw like" this blog...

Ami said...

Suka menggambarkan sesuatu sedetil-detilnya ya sebelum mengarang fiksi, atau nyata?

Djangan Pakies said...

keadailan berpihak pada uang, padahal nyawa adalah taruhannya. Kemana sisi kemanusiaan negeri ini?
....
oot: blognya sudah enak dipandang, tinggal betulin metatag biar gampang dikenali mbah G

Adit Mahameru said...

OOT: Habib Djangan Pakies sekarang jadi master webblog...hahhahahahahahhaa.....tutorial tak langsung mengena..dan mantap.......kwkwkww..salut dah buat Habib Pakies...

Zan Insurgent said...

setelah membaca cerpen ini saya jadi ingat dengan buruknya birokrasi di negeri ini...

Nyayu Amibae said...

>> Eichel : hmmm trims ya....

>> Jeng Ami : wuhahha,, aku juga ga tau, ini cerita fiksi atau nyata jeng,, pokoke asal ngarang aja,,hehehe

>> Pakies : Sisi kemanusiaan di negeri kita memang banyak pertanyaan pak, tapi yg menjadi pertanyaan inti, dimanakah kita??

Huft.. ttg meta tag, aku ga ngerti pak... dijelasin yaa... hehehe

>> Dek Adit : wuahahahaha.. itulah saudara yg hebat dik, ,selalu berbagi,,, btw, kok komennya langsung OOT,, tiidaaak!!! mana komen untuk kuuu.. wuhahahahah.. (nangisbombai.com)

Nyayu Amibae said...

>> Sob Zan : hmmm.... benarkah?

DuniaPiyen said...

cerita yang sangat menarik....

tiwi said...

asswrwb...ya begitulah... istilahnya 'bayar dp dulu baru kamu bisa berobat disini', moga2 aja dengan semakin bnyak yang menulis postingan di dunia maya tentang kondisi sosial, hukum real di negara kita, akan menjadi sebuah gerakan moral massal dunia maya hingga berpengaruh juga terhadap penegakan keadilan di negeri ini...Amin.

Nova Miladyarti said...

terinspirasi dari kisah nyata ya mbak?
makin bagus aja ni tulisannya:)

Noor's blog (inside of me ) said...

Sungguh tragis apa yang dialami oleh Nek Ifah, saya rasa banyak Nek Ifah-Nek ifah lain yang juga merasakan hal sama. Seperti hak untuk hidup bukan untuk kalangan miskin seperti mereka, haruskah Nek ifah kehilangan cucu kesayangannya hanya karena tak mampu ? Jangan sampai itu terjadi. ceritanya bagus Mba, sangat menyentuh....

Soal award jangan terlalu dipikirkan, saya berikan award sebagai tanda persahabatan & bukan bermaksud untuk membebani...enjoy aja ! :)

chikarei said...

kejadian kayak gini bukan hanya terjadi pada nek ifah
banyak orang miskin dipersulit >.<

Edo said...

yu..., ada award buat u..., bekicot...,