Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Friday, March 11, 2011

Auriga ( Bagian-1 )

6 Rabiulakhir 1432 H
Jum'at, 11 Maret 2011

"Huh....", aku menghembuskan nafas ketika  menghempaskan tubuh letih ini di bangku taman. Sekilas ku lirik jam tangan  yang menunjukkan kalau sekarang sudah pukul sembilan lewat lima belas malam. Hmm.. kucoba menikmati indahnya cahaya lampu taman yang berwarna kuning membuat siluet bayangan dari pepohonan.

Aku sadar, kalau sekarang sudah terlalu malam untuk ku berada seorang diri di taman ini. Tapi, aku tidak terlalu merasa cemas, karena masih banyak kaum pemuda dan pemudi yang duduk kongkrow dan bercanda di pelataran gedung pertemuan yang berjarak kurang lebih enam meter di depan ku. "hmm... sepertinya acara kontes band gratis di dalam gedung masih berlangsung", gumam ku tanpa sedikit pun merasa tertarik untuk melangkahkan kaki ke gedung tersebut.


 Dalam senyap, ku dengar  handphone ku berbunyi. Suara Sherina dengan lantunan lagu Simfoni Hitam nya ku biarkan mengalun merdu dari dalam tas ku. Aku sungguh-sungguh tidak berniat untuk mengangkat telepon dari Dhirga, kekasih ku yang tingkah nya over protective sekali akhir-akhir ini. Terakhir, sore tadi Dhirga marah-marah di telepon karena tiga kali panggilannya tidak terjawab oleh ku. 

Ya, hari ini adalah hari paling sial bagi ku, dari pagi pekerjaan ku sebagai Graphic Designer sudah seperti neraka saja. Mrs. Reiko sang Fashion Designer uring-uringan seharian menyambut acara peragaan busana
dadakannya bulan depan, seluruh gambar yang aku buat tak ada yang benar di mata nya. Terpaksa, aku pun mesti lembur sampai malam bersama si Corel dan Photoshop untuk mengulang gambar oret-oretan tangan serta file gambar dari Mrs.Eriko yang berkebangsaan Jepang agar menjadi serupa vector. Yang buat rada susah dan memakan waktu adalah kalau mau membuat pattern kain, mesti di bolak-balik supaya gambarnya nanti bisa diulang-ulang.

Ku rasakan dingin ketika setitik air hujan menerpa wajahku, entah sudah berapa kali panggilan telepon dari Dhirga mengulang-ulang di handphone ku. "Sekarang waktu nya aku pulang, tidak lucu kalau kisah sedih ku hari ini terlengkapi dengan pulang basah kuyup karena kehujanan!", bisik ku dalam hati, dan bergegas berlari-lari kecil diiringi alunan bunyi ringtone lagu Simfoni Hitam.


Tlah ku nyanyikan alunan-alunan sendu ku
Tlah ku bisikkan cerita-cerita gelap ku
Tlah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisi ku


"Nak, kamu ga kerja?", suara Mama merdu menarik ku dari alam mimpi ke dua setelah sholat shubuh. "Hmm... jam berapa sekarang Ma?", tanya ku sambil mengucek-ucek mata dan memperhatikan Mama yang menarik tirai jendela kamar ku. "Sekarang baru saja jam setengah delapan", ujar Mama  mendelikkan mata dan  senyum yang tersungging tergambar di bibir  wanita paruh baya yang sangat aku cintai ini. "Hah.... jam setengah delapan???", aku terkesiap dan secara refleks langsung melompat dari tempat tidur. "Gawat, kesiangan nih Ma..." ujarku setengah berteriak dan langsung menuju ke kamar mandi diikuti pandangan dan senyum mama.

Dengan ransel di bahu, aku berlari-lari kecil keluar dari perumahan, Mang Toha penjual roti langganan yang menyapa pun hanya ku balas dengan lambaian tangan. Pucuk di cinta ulam pun tiba, baru sebentar aku berdiri di tepian jalan, sebuah mobil taksi menghampiri ku. "Iyalah.. dari pada aku naik angkot, pasti aku terlambat", pikir ku seraya menaiki Taksi, "Jalan Rajawali pak..", ujar ku pada si sopir taksi.

Di dalam taksi, pandangan ku lurus ke depan. Telinga ku terbuka lebar mendengarkan siaran berita dari radio yang di setel pak sopir. Di penghujung berita, ada pengumuman tentang busway dan keinginan gubernur melakukan perekrutan pengemudi, khususnya 30% diharapkan pengemudi perempuan. "wah.. seru juga nih kalau di coba!" ujarku lirih dengan senyum merekah sepanjang perjalanan.

Untung saja, semua hasil lembur-an ku semalam di terima oleh Mrs.Reiko dengan senyum. Dan siang ini, dari meja ku yang tidak bersekat, ku lihat hari ini giliran Linda dan Eka yang menerima nyanyian Mrs.Reiko. "Aah.. Mrs.Reiko sebetulnya baik, hanya saja sifat cemas berlebihannya  dalam menghadapi acara Fashion Show Tunggal bulan depan membuat semua karyawan di sini mengernyitkan dahi. Masih terekam di ingatan ku mata Eka berkepribadian halus itu yang berkaca-kaca ketika di bentak oleh Mrs. Reiko karena jahitannya yang tidak sesuai keinginan. "Hmm... badai pasti berlalu", gumam ku lirih sambil meneruskan gambar-gambarku. 

***

"Auriga!!", ku rasakan ada yang meraih tangan ku ketika aku memutuskan untuk pulang berjalan kaki kembali sore ini. Aku pun membalikkan badan dan membuka ear phone mp3 player dari telinga ku. "Dhirga!", ucap ku lirih setengah terkesima mendapati sosok laki-laki yang selalu berpakaian parlente tersebut. Kulihat nafasnya masih  tersengal-sengal, karena berlari mengejar ku.

"Ada apa dengan mu? kenapa seharian ini handphone mu tidak aktif?", pertanyaan Dhirga langsung memberondong bagaikan suara senapan. " Aku lupa mencharger handphone ku semalam", jawabku seadanya sambil menatap muka yang berwarna merah padam tersebut. Dhirga memandangku dengan pandangan seakan-akan akan melahapku. Pandangannya berhenti pada koran yang tergulung dalam genggamanku. "Tidak biasanya kamu membaca koran?", ujar Dhirga mengambil dan meneliti koran yang aku beli di kios sebelah halte. 

Dengan diikuti Dhirga, aku berjalan ke trotoar sisi jalan, sambil mengambil posisi duduk aku pun mengutarakan rasa tertarik ku akan iklan lowongan pengemudi busway. "Aku perlu melakukan hal baru!", ujar ku memberi alasan ketika ku dapati wajah Dhirga yang terkesima tak percaya. " I don't believe it!! What's wrong with you Auri? ", ujar Dhirga. " Keputusanku sudah bulat Ga, aku sudah telalu jenuh dengan kehidupan rutinku ini, ayolah... beri aku kesempatan untuk mengikuti tes rekruitmen nya bulan depan", pinta ku. Dhirga terdiam memandangku lekat. Memandang seorang Auriga yang bagai menjelma menjadi konstelasi  bintang  di langit.

sumber gambar : http://utahskies.org



bersambung ke ---> Auriga (Bagian-2)



14 comments:

tiwi said...

asswrwb....weleh2....kok bersambung..., otre dehhh aku kan baca ntar sambungannya...hehehh

Belantara Indonesia said...

Kreatif, buat webblog dgn cerbung, banyak manfaatnya yuk, mirip majalah Hai dahulu, selalu nyari sambungan cerita. Efeknya? aku beli terus tiuap edisi...nah..jadikan panutan atuh...Efek lagi? Traffik naik, Efek paling bagus lagi? Dapat Jodoh..:p

adi said...

dengan cerita bersambung.. membuat orang jadi penasaran untuk menyimak cerita selanjutnya

Arief Bayoe Sapoetra said...

wah jadi penasaran nich..... tak tunggu rilisnya mbak amibae...

tito Heyziputra said...

kakkk...
suka deh sama perumpamaan yg membawa2 kata konstelasi, auriga... tapi ga tau arti auriga nih?? (malu sendiri deh...)

wah jadi pengen tau mrs. reiko itu gmana aslinya. haha

Djangan Pakies said...

dari designer pingin jadi sopir ? bener nih
ayo ditunggu kelanjutannya

Ferdinand said...

Halah lagi seru koQ wes bersambung ae sob :(

padahal aku baru mulai nikmatin ceritanya hhe... Hem... tapi kadang kehidupan emank bikin jenuh ya hhe... Ah pokoknya klo ada lanjutannya kasih kabar dlu ya sebelum bikin Part 3 hhe... kan kamu mah cepet sangat klo nulis beginian tau2 udah jauh aja haha...

apa kbr nie sista? maaf baru bisa nongol lagi, lha orang baru blogging lagi wkwkwk..

happy blogging n semangat :L

Ami said...

bersambung... jadi penasaran deh...

Zan Insurgent said...

sepertinya sambungannya sangat menarik nih...kok bisa ya ide ceritanya dari grapich designer ke sopir Busway...salut dah sama imajinasi mu Sob...

semoga ntar ane ga telat baca kelanjutan kisahnya... ;)

daur ulang said...

di tunggu neh ceber nya, nanggung amat mba..jadi pengen tau next nya itu apa..heeeee.

Sukadi said...

waduh...dalam dilema kah? he.he..
pasti tambah seru nantinya :)

SHUDAI AJLANI (dot) COM said...

waduh ada bagian 2nya yaaa? *nunggu deh*

iffa hoet said...

Assalamu'alaikum mbak Ami...
Weleh....nekat banget ya si Auriga, mw jadi sopir bushway? Ckckck....

Tak tung tung lo sambungannya biar g penasaran ntar g bisa tidur hehe....^_^

Noor's blog (inside of me ) said...

Jadi supir busway? wah...kayaknya Auriga punya jiwa petualang nih, padahal posisinya sebagai designer sudah enak....