Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Sunday, July 22, 2012

Kulit dan Isi

Aku tidak akan menjadi sehat dengan meminum secangkir kepahitan kecuali aku menemukan madu sebagai endapannya.

Aku tidak akan selamat melintasi jalan sempit kecuali aku bisa mencapai padang rumput hijau di seberangnya.

Aku tidak akan rela kehilangan seorang teman dalam kabut surga begitu aku menemukan dia dalam kejernihan fajar.

Berapa banyak waktu mesti ku tahan menanggungkan sakit dan melepuh di bawah kerudung kesabaran, seraya mengangankan adanya ganjaran dan kebenaran. Tapi ketika aku membuka kerudung itu, aku melihat kesakitan telah berubah menjadi kesenangan dan yang melepuh telah berubah menjadi kesejukkan dan kedamaian.

Berapa banyak waktu harus ku jalani bersama sahabatku di Dunia-yang-Serba-Permukaan ini, bersungut-sungut sendiri menyesali ketololan dan kebodohannya. Tapi aku tidak juga sampai ke Dunia-Penuh_Kedalaman itu sampai aku menyadari sendiri bahwa aku telah menjadi tiran lalim dan temankulah yang menjadi arif lagi bijak.

Berapa lama aku mesti linglung karena tuak ke-dirian-ku, seraya beranggapan bahwa aku dan temanku bagaikan domba dengan serigala, sampai aku mendusin dari mabuk lalu tersadar bahwa aku dan dia adalah sama-sama manusia.

Kita semua, wahai manusia, terperangkap dalam penampilan luar situasi kita, tertutupi dari hakikat tak nampak dalam kenyataan ini. Suatu kali ada orang di antara kita yang tersandung, dan kita menyebutnya terjerembab jatuh; kalau ia melangkah lambat, kita menyebutnya orang tua yang pikun; kalau ia gagap bicara, kita menyebutnya bisu; dan kalau ia mengeluh, kita menyebutnya mulai sakaratul-maut.

Kita semua tergila-gila pada paham bahwa kejelasan terdapat pada 'aku', sedang kepura-puraan terdapat pada 'kamu'. Karena itu kita tidak mau merasakan apa yang oleh jiwa dibisikkan kepada 'aku' dan apa yang tersembunyi yang terdapat pada 'kamu'.

Apa yang sesungguhnya sedang kita lakukan ketika keangkuhan membuat kita berpaling dari kebenaran yang terpampang di tengah-tengah kita?

Aku berkata kepadamu - walau mungkin kata-kataku adalah topeng yang menyelubungi wajah sejatiku - aku berkata kepada mu dan kepada jiwaku sendiri, bahwa apa yang tampak di mata kita tak lain kabut yang menyembunyikan dari kita hal-hal yang harus kita cerna dengan kedalaman. Apa yang kita dengar dengan telinga kita hanyalah suara riuh, yang mengubah apa yang mestinya kita cermati dengan pendengaran hati.

Jika kita menyaksikan seorang polisi menggandeng seseorang melangkah ke bui, kita harus menahan diri menyebut salah satu nya penjahat. Jika kita melihat seseorang terpercik darahnya sendiri, sementara di dekatnya ada seorang yang tangannya bernoda merah, kita jangan sampai tergesa menuduh yang satu pembunuh dan satunya lagi korban. Jika kita mendengar seseorang bernyanyi dan yang satu memandunya, kita harus bersabar dulu sebelum memutuskan siapa menghibur siapa.

Maka itu, saudara ku, jangan sampai kita membuat kesimpulan tentang seseorang hanya dengan melihat penampilan luarnya, dan jangan mengambil satu atau sejumlah perkataan-nya untuk merumuskan bagaimana diri terdalamnya. Di balik kehadiran orang yang kau anggap bodoh-hanya karena ia kurang pandai atau bicara tanpa nada-ada banyak hikmah kesadaran yang membimbingmu ke kearifan dan di sana tersembunyilah hati mandah bagaikan lambaian keinsafan. Dibalik kehadiran orang yang engkau pandang rendah, karena sosoknya yang buruk atau hidupnya yang nista, ada banyak hikmah karunia dari surga yang menjadi hembusan napas Tuhan.

Engkau mungkin mengunjungi istana dan gubuk pada hari yang sama, menyisakan rasa takjub pada yang pertama dan rasa kasihan pada lainnya. Tapi jika saja engkau dapat menembus rajutan penampilan dengan wawasanmu, niscaya ketakjubanmu akan surut berganti rasa sesal, sedangkan rasa kasihan mu akan berubah menjadi pujian.

Engkau mungkin akan berpapasan dengan dua orang pria diantara waktu pagi dan malam mu. Yang pertama berbicara pada mu dengan riuh angin ribut, dengan sosok menggetarkan yang bersikap gagah perkasa. Sedang yang kedua mengajakmu berbicara dengan gagap, penuh sungkan, dengan suara gemetar dan kalimat terpatah-patah. Pada yang pertama engkau melihat keberanian serta ketetapan hati, dan pada orang kedua terlihat kelemahan dan ketidakberdayaan. Tapi seandainya kau lihat mereka pada suatu waktu, disaat kemalangan menghadang, atau datang panggilan jihad demi mempertahankan keyakinan, maka engkau akan tahu bahwa kekasaran yang tak tahu adat bukan berarti keberanian, dan sikap santun pemalu tidak selalu berarti pengecut.

Kalau suatu kali engkau melongok keluar jendela dan melihat diantara para pejalan kaki ada seorang biarawati melangkah ke kanan dan seorang pelacur melangkah ke kiri - maka engkau akan bergumam seketika, "Betapa mulia yang satu dan betapa hina satunya lagi". Namun jika engkau pejamkan matamu dan mendengarkan barang sejenak, engkau akan mendengarkan suara bisikkan yang mengalun dari angkasa, "Yang seorang mencari-Ku lewat doa-doanya, yang satunya lagi memohon kepada-Ku melalui deritanya, dan pada tiap-tiap jiwanya terdapat bayangan dari jiwa-Ku".

Engkau mengembara di bumi mencari-cari apa yang disebut kemajuan dan peradaban. Engkau memasuki kota pencakar langit, dengan bangunan umum nan megah dan jalan-jalan raya yang lebar-lempang. Orang-orang berlalu-lalang kian kemari: Terowongan yang ini menembus bumi, dan yang satu lagi menjulang kelangit; yang satu tak terlindung dari petir, yang satu lagi melakukan riset atmosfer. Semuanya mengenakan busana dari penjahit ternama dengan desain yang unik, seolah tengah mengikuti festival atau perayaan.

Setelah beberapa hari engkau pun sampai ke kota lain, dengan pondok-pondok sederhana, dijalan-jalan sempit yang, ketika datang banjir musim penghujan, semuanya akan berubah menjadi seperti lempung dikitari lautan keruh. Selama musim kemarau jalan-jalan itu pun akan bersalin rupa lagi menjadi kepulan awan debu.

Penduduknya pun mesti menyesuaikan diri, mereka bertahan diantara hidup alami dan kesederhanaan, layaknya tali terentang diantara simpul-takik dihaluan kapal. Mereka berjalan dengan pelan, bekerja asal-asalan, dan memandang mu seolah di belakang pupil matanya terdapat mata yang lain lagi. menatapmu dari kejauhan yang sayup-sayup.

Kau tinggalkan kota ini penuh bencidan jijik seraya bergumam, "Perbedaan antara kedua kota itu bagaikan perbedaan antara hidup dan mati. Kota pertama memiliki semua kekuatan dan perkembangan; yang kedua menyimpan segenap kelemahan dan kemelaratan yang papa. Kota pertama memiliki kecerahan musim semi dan musim panas, yang kedua menyimpan kemuraman musim dingin dan musim gugur. Kota pertama dengan kegemilangan-nya bagaikan seorang anak muda yang tengah berdansa di taman; kota kedua memperlihatkan kerentaan dari sebuah barang lapuk ditengah abu'.

Betapapun juga, andaikan mata dapat melihat cahaya Tuhan di atas kedua kota itu, maka mereka akan melihat kota-kota itu seperti pohon sejenis yang tumbuh dikebun yang sama. Pandangan yang jernih pun akan engkau peroleh, yang menjelaskan kesejatian masing-masing pohon- yang tampak maju dan berkembang pesat sesungguhnya cuma sekejap saja berlangsung, bagaikan umur gelembung sabun. Dan yang engkau lihat lemah, tidak seperti yang satunya itu, pada hakikatnya justru akan bertahan.

Jangan, jangan mengira kehidupan itu ada dipermukaan segenap hal-ihwal. Ia sepenuhnya tersembunyi; dan dunia yang tampak itu sesungguhnyalah sekedar kulit, bukan isi.

Manusia diperhitungkan bukanlah berdasarkan tampangnya, melainkan hati nya.

Demikian juga halnya agama, yang tidak diperhitungkan berdasarkan manifestasi luarnya, seperti bangunannya, ritualnya atau tradisi-tradisinya, melainkan terletak pada jiwa-jiwa yang berlabuh padanya dan pada tujuan jiwa yang dibentuknya.

Hakikat seni bukanlah tinggi-rendah nada lagu, bunyi kata dalam kidung pujian, atau pada garis dan warna-warni pada lukisan yang engkau lihat dengan kedua matamu. Melainkan terletak pada jeda getar dengan senyap antara nada tinggi dan rendah. Ia terletak pada perasaan yang hanyut saat engkau mendengarkan kidung pujian; terletak pada perasaan yang mengendap tegang, sepi, dan sendiri dalam jiwa sang penyair. Ia terletak dalam ilham lukisan yang tererap oleh mu sementara engkau menatapnya, yang membawa mu melambung terbuai bahkan hingga melebihi keelokkannya.

Bukan, Saudaraku, bukan - siang dan malam bukanlah apa yang dinampakkan di luarnya. Aku yang menyusuri kemegahan siang dan malam, dengan ini mengaku bahwa aku bukanlah kata-kata yang aku nyatakan dihadapanmu, kecuali sepanjang kata-kata itu menyampaikan sesuatu dari lubuk hati yang terdalam. Maka jangan mengiraku bodoh sebelum engkau memeriksa esensi yang tersembunyi, atau menganggapku jenius sebelum engkau menelanjangi hakikat diri.

Jangan pula menilai, "Ia seorang tamak yang pelit", sebelum engkau memeriksa hati ku; atau "Ia seorang kesatria yang murah hati", sebelum engkau melihat apa yang membuatku menjadi satria dan pemurah. Jangan menyebutku seorang penyayang sampai cintaku mewujud-kan dirinya kepadamu sebagai cahaya dan api yang memancarkannya. Dan jangan pula menyebutku seorang periang sampai engkau menyentuh luka hati ku yang berdarah-pedih.


----
Copy-paste daru buku Raja yang Terpenjara - Khalil Gibran

2 comments:

maarifsiregar.com said...

baca karya kahlil gibran, musti konsentrasi penuh hehe

Kontraktor said...

artikel yang menarik.. hehehe