Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Sunday, October 7, 2012

Ssst,,, dengarkanlah!

"Ssst,,, dengarkanlah", ujar nya pelan seakan mengetahui kalau aku ingin mengeluarkan suara menanyakan apa yang ia lakukan. Ku pandang wajah teduh yang tak bergeming duduk memandang ke luar jendela, ku coba menegakkan daun telinga layaknya seekor kelinci yang mencoba menggunakan insting nya menangkap suara, tapi entahlah aku tetap tak mendengarkan suara apapun kecuali suara sang hujan yang menyirami bumi untuk pertama kali nya setelah musim kemarau yang melanda.

"Tidak kah kamu mendengarnya?, tanya nya pelan karena memang ia sangat mengetahui karakter ku yang tidak sabaran. "Ya! aku mendengarnya,,", jawab ku sekena nya yang sepintas terdengar asal jawab sambil tetap mengkerutkan dahi. 

"Hahahaha!",tiba-tiba ia tertawa lepas, sekarang tubuhnya duduk menghadap ku, mata dari wajah teduh itu bagaikan sinar betha yang masuk langsung tembus ke dalam hati, mencoba mencari tahu dan menangkap apa yang aku rasa lalu kemudian menjalar langsung ke alam pikir ku.

"kenapa tertawa? apa jawaban ku salah?", ujar ku segera berdiri dari duduk agar riak dari hati ku yang bergemuruh tak terlihat sebagai fakta serta tak terdengar dalam rasa oleh nya.

"Apa yang kamu dengar?", tanya nya dengan suara pelan. "Aku mendengar suara hujan!", ujar ku tanpa berpaling dari posisi ku yang berdiri menghadap jendela. dan sekali ini aku kembali mendengar suara tawa dengan volume lebih keras dari sebelumnya.

"Apa yang hujan kata kan?", tanya nya lagi seakan-akan pertanyaannya adalah pertanyaan essai yang mengandung ratusan tanya lainnya.

"Entahlah aku tidak tahu!", ujar ku rada ketus yang menggambarkan kalau aku sedang dalam posisi sulit untuk mencari jawab dari pertanyaannya. "Memang apa yang sedang kamu dengar, sampai kamu betah duduk berlama-lama memandang ke luar jendela?", aku langsung balik bertanya sebagai usaha memberikan serangan balik guna menutupi keterpojokkan ku akan pertanyaannya.

Sesaat ku lihat wajah teduh itu diam, hujan yang mulai reda di luar jendela pun turut menarik nafas menanti jawab nya seperti aku.

"Aku mendengar suara kebahagiaan tapi juga suara kesedihan di hujan pertama ini", ujar nya pelan. "hanya itu?", kali ini aku yang membuat pertanyaan sambungan. "Ya, hanya itu", jawabnya ringkas yang membuat aku memasang wajah bengong seketika karena pertanyaan ku harus berhenti hanya sampai di situ.

"Aah tidak adil! harus nya ada penjelasan kenapa terdengar suara kebahagian, terus juga kenapa terdengar suara kesedihan, ayooo jelaskan!", sekali ini aku sedikit merengek seperti anak kecil yang merengek meminta mainan kala ikut ke pasar dengan ibu nya.

"Hahaha,,, tak semua tanya mesti ada jawabnya dan tak semua pernyataan mesti ada penjelasan, jadi kan ini pe er untuk mu merenung malam ini!, yoook makan! aku lapar!", ujarnya sambil berdiri dan kemudian berlalu meninggalkan ku yang bengong dalam diam.

5 comments:

Yayack Faqih said...

apa kabar hujan? tanyaku dalam penantian panjang, tapi setelahnya hujan betah lama lama memeluk musimnya, kapan hujan ini bsa berhenti?... manusia selalu menuntuk yg mereka mau.

munir ardi said...

hujan teruslah bercerita tentang mimpi dan hari esok yang lebih baik meski cuma khayalan yang belum tentu kita dapati

HP Yitno said...

Wah siapa tuh kak yang memberimu pertanyaan yang sarat akan makna.

Djangan Pakies said...

benar juga ya, nggak semua pertanyaan perlu diperjelas jawabannya, karena dengan isyara saja sudah memberikan makna. Dan makin diperjelas, seringkali justru membingunkgan

Mas Huda said...

kirain mau dijelasin eee malah ditinggal makan, jadi penasaran aku.. hhmm