Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Monday, October 8, 2012

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

"Pernah kah kamu ikut tawuran?", sebuah pertanyaan sahabat di chat Facebook siang tadi yang menurut ku rada aneh tapi juga cukup menggelitik hati ini kembali terngiang-ngiang kala aku menginjakkan kaki di rumah kontrakkan ku sore ini.

"Hahahahaha,,, tidak ada angin tidak ada hujan, kenapa kamu bertanya seperti itu?", aku balik bertanya. "Karena aku pikir kamu pasti pernah!", jawab nya ringkas tapi juga membuat ku garuk-garuk kepala sambil bertanya-tanya dalam hati apakah sahabat blogger ku dari pulau seberang ini dulunya pernah sekolah jurusan paranormal atau tidak.


"Hei,, kamu masih di situ?", kotak chat dari nya di FB berkedip-kedip meminta balasan."Ya, I'm here!",ujar ku dengan lincah menarikan jemari di atas keyboard si lepi. "Jadi bagaimana? aku benar kan kalau kamu pernah ikut tawuran?", tanya nya mengulang meminta kepastian.

"Hmmm,,, sebetulnya aku malu untuk mengakui nya, tapi kamu benar aku pernah ikut tawuran waktu sekolah dulu,, tapi,,sssst,,, jangan beri tahu siapa pun ini rahasia,, masa anak perempuan ikut tawuran, apa kata dunia!!!", jawab ku sambil mengakhiri tulisan dengan emo tertawa dan menangis secara bersamaan.

"Oh, ya? tawuran seperti yang ramai di siarkan oleh televisi akhir-akhir ini?", tanya nya kembali. "Hmm.. tidak sampai seperti itu sih, apalagi memakan korban, hiks,, itu sudah menakutkan,, seperti tinggal di hutan rimba saja!", jawab ku dengan sedikit bergidik ngeri mengingat berita tentang tawuran antara anak sekolah di Jakarta yang memakan korban. "Lalu tawuran yang bagaimana?", tanya nya kembali seperti peluru yang melesat cepat dari senapan.

Sekilas ingatan ku kembali ke sekitar sepuluh tahun yang lalu ketika darah muda masih mengalir deras, tanpa ada rasa takut, menyimpan mimpi dalam sebuah kotak yang terlindung dengan persahabatan. "Aah,,, masa muda yang begitu indah!", gumam ku sendiri di dalam hati.

"I'm waiting your answer...", ujarnya dari seberang sana yang ternyata telah menunggu cukup lama tetapi mengembalikan ku kembali ke alam nyata.

"Hanya sebuah tawuran biasa, ketika ingin menunjukkan keberadaan, egoisme untuk di dengar, dan yang paling penting adalah rasa kesetia kawanan", jawab ku sambil berpikir ulang sendiri dengan jawaban yang telah ku tulis dan ku kirim. "Oh ya,, hanya tawuran biasa? bisa jadi tawuran yang terjadi di SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta beberapa lalu itu juga hanya tawuran biasa yang akhirnya menjadi dendam yang menahun serta turun-temurun", ujarnya dan kembali membuat otak ku berpikir cukup keras.

"oalaaah,, kok bahasan kita jadi serius sekali sih!!", tulis ku sambil mengkerutkan dahi yang kerutannya sudah seperti pakaian yang belum diseterika.

Kulihat sebuah emo tertawa muncul di layar chat, dan beberapa saat terlihat tulisan dari nya dengan huruf kapital yang berbunyi, "INI MEMANG MASALAH SERIUS!".

Aku menelan ludah, jemari ku terasa kaku untuk menari di atas keyboard, beberapa kali aku menulis kalimat untuk menjawab chat sahabat dari pulau seberang tersebut tetapi beberapa kali juga aku menekan tombol "backspace" di ujung kiri atas keyboard. Hati ku berkecamuk menyatakan bahwa yang ia katakan tersebut adalah benar adanya. Tawuran yang semula aku anggap biasa ternyata menjadi awal dari hal-hal yang luar biasa mengerikan. "Aah,, kesombongan masa muda betul-betul sering menutup mata hati dan olah pikir ku saat itu.

"Maaf, bukan maksud ku menghakimi masa lalu mu, tapi ini memang menjadi masalah yang serius untuk kita semua, dan khusus nya untuk Negara Kita yang Bhineka Tunggal Ika. Mungkin awal nya ini memang menjadi hal yang biasa, Tapi,, sesuatu yang buruk bila di awali dan dianggap biasa maka sama saja menutupi mata hati dari sebuah kebenaran. Tawuran sebetulnya dapat dicegah lebih awal, dengan membuka paradigma dari semua pihak", tulis nya cukup panjang.

"Hmm..membuka paradigma dari semua pihak, maksudnya?", sekarang gantian aku yang mengejarnya dengan tanya.

"Ya, betul! Tawuran ini  dapat dicegah dan ditanggulangi tidak hanya dari si pelajar sendiri, tapi peran lingkungannya baik itu keluarga, sekolah dan pergaulannya sangat penting. Bukankah Allah menciptakan manusia menjadi makhluk yang paling sempurna dari makhluk lainnya di muka bumi dengan memberi kelebihan akal. Artinya kita diminta untuk berpikir dan berpikir sebelum melakukan sesuatu.  Jangan pernah menghakimi kalau si pelajar yang tawuran itu sepenuhnya yang bersalah, tapi coba dilihat kembali kenapa ia melakukan tawuran, karena kadang kala kita yang hidup di sekitarnya lah yang secara tidak langsung menyebabkan dan memaksa mereka untuk tawuran", tulis nya cukup panjang hingga memenuhi satu slot kolom chat.

Aku menarik nafas panjang membaca tulisannya. Tak satu pun kalimat yang ia tulis bisa ku sangkal, terkadang memang kita yang hidup di sekitarnya lah yang sering menyebabkan mereka untuk tawuran, karena bisa di lihat sendiri di televisi sering sekali dipertontonkan kekerasan-kekerasan yang terjadi di tanah air kita, dari anggota dewan yang berantem di ruang sidang, dari para pihak keamanan yang bersiteru dengan pedagang kaki lima, berita pertikaian antar kampung yang dibesar-besarkan, dan lain sebagainya. Di kehidupan sehari-hari pun kadang ditemukan orang tua yang bilang ini tidak boleh! itu tidak boleh! kepada anaknya, tetapi ternyata dibelakang itu sang orang tua sendiri yang melakukan. "Huft!! apakah itu contoh yang baik untuk generasi muda? Bukankah generasi muda Indonesia akan menjadi baik, bila generasi sebelumnya mengajarkan dan memberi contoh yang baik, hmm,, aku jadi bertanya sendiri, "Sudahkah aku mengajari dan memberi contoh yang baik untuk generasi penerus bangsa ini?"

----
Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu: Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran


8 comments:

Shohibul Kontes Unggulan Indonesia Bersatu said...

Terima kasih atas partisipasi sahabat.
Salam hangat dari Surabaya

Nyayu Amibae said...

terima kasih juga sudah bertandang ke rumah ku ini pakde,, semoga tulisan di atas bisa ikut serta,,,,

Ferdinand said...

Hmmm.. mau kujawab jujur ato nggak? klo jujur aku juga pernah tawuran kok hahaa... *buka aib masa muda

Cuma klo dibandingin sama tawuran yg sekarang2 ini sih yg jauh banget, wong jamanku dulu tawuran nggak sampe meregang nyawa kok, apalagi kelahi 1 lawan 1 lebih diutamain ketimbang tawuran... *jadi senyam senyum sendiri nginget2 kenakalan sekolah haha...

Aku sih nggak mau menghakimi siapapun, cuma klo masing2 dari kita mau saling menghargai aja, aku rasa yg namanya tawuran nggak bakal ada kaya sekarang2 ini... :)

Gimana kabarnya nih sista?

Dhonie Moch Romdhonie said...

#Info : Tulisan ini ke 13, searching pada Google :D

munir ardi said...

Semoga tawuran bisa hilang rasanya jengah lihat siswa yang semestinya belajar malah ada dijalanan saling lempar dan pukul

Akhmad Muhaimin Azzet said...

Yup, satu di antara yang penting itu adalah contoh atau teladan yang baik. Sepakat, MBak. Ohya, semoga ngontesnya sukses ya....

Ririe Khayan said...

Hayuuukk tawurannya di rumah pakdhe saja deh..ini makin seru neh peserta tawurannya...

Herdoni Wahyono said...

Kita tentu prihatin dengan terjadinya tawuran pelajar beberapa waktu lalu yang memakan korban jiwa. Orang tua siswa utamanya di sekolah tersebut tentu akan was-was bila kejadian serupa terulang kembali dan menimpa anaknya. Apa yang mesti dilakukan ? Menjadi tugas bersama seluruh komponen di negeri ini untuk membangun 'karakter bangsa' yang unggul sesuai kapasitas masing-masing. Pembangunan 'karakter bangsa' ini harus dimulai sejak dini atau selagi masih anak-anak terus remaja sampai dewasa. Memang tidak mudah. Mudah dalam mengucapkan, namun 'sulit' untuk mewujudkannya. Pendidikan budi pekerti yang luhur amatlah penting. Benih-benih budi luhur harus 'ditanamkan' kedalam jiwa mereka sejak dini. Disamping itu terus digelorakan rasa cinta tanah air Indonesia. Ingat bait lagu kebangsaan Indonesia, 'bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya'.

Salam sukses buat Admin Blog 'Cerita Hujan'.