Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Saturday, November 24, 2012

Galau, Nagasari, dan sebuah pertanyaan

Seperti biasa, kalau sedang tidak pulang ke Palembang, aktifitasku lebih banyak aku habiskan dengan bertapa di depan si lepi, entah itu bercengkerama dengan si FB,  dolan ke rumah-rumah sahabat blog yang sudah hampir sama seperti aku sering meninggalkan rumah tanpa posting-an yang tak pasti kapan jadwal ngepost nya, atau mencoba berakrab-akrab ria dengan si row dan coloumn sheet Excel untuk menyelesaikan kerjaan yang tumpukkannya semakin menggunung.

Setelah menghabiskan satu kaleng cola, entah kenapa pandangan ku tertuju ke piring kue nagasari yang aku beli untuk sarapan pagi tadi. Sesaat aku jadi teringat pertanyaan seorang sahabat yang bertanya via telepon kemarin malam, "Apa makanan kesukaan mu?", huft,, pertanyaan yang cukup simpel tapi ternyata aku lebih sulit menjawabnya.

Seperti biasa, kalau tak mampu memberi jawaban, aku pun mulai memakai ilmu ngeles kelas 4 yang aku pelajari selama menjadi seorang fasilitator, yaitu bertanya balik kepada nya. Aah,, ternyata dia mudah sekali menjawabnya, dan bola kembali terover kepada ku,, ealaah,, kalau saja aku bisa pakai jurus langkah sejuta pasti aku pake, tapi karena pertanyaannya via telepon, gimana cara kaburnya?? hahahaha

Setelah aku terdiam cukup lama sambil berharap ia akan mencabut pertanyaannya tanpa ada syarat apapun, tanpa lupa disertai berdoa sembunyi-sembunyi supaya ia mendadak amnesia akan pertanyaannya yang cukup membuat ku galau, ku dengar ia tertawa terbahak-bahak di ujung sana, di tempat yang biasanya signal antara ada dan tiada tapi ternyata malam ini  si signal cukup berpihak kepada nya, dengan bukti sambungan telepon tidak pake putus-putus.

"kenapa diam?", kembali aku dengar suaranya yang seakan-akan langsung tersampaikan oleh sang bayu dalam satu arah. "Bingung!", jawab ku singkat, dan kembali aku dengar ia tertawa terbahak-bahak.

"aku bingung kalau ditanya suka makan apa, tapi kalau ditanya tidak suka makan apa rasanya itu pertanyaan yang lebih mudah!", ujar ku mencoba memberi jawaban. 

"Oh ya? kenapa begitu?", tanya nya lagi, dan Huaaah rasanya saat itu ingin aku lemparkan semua bantal yang ada (padahal hanya ada 2, hahahaha), sebagai ungkapan rasa kesal ku karena tak mampu memberi jawaban yang seharus nya bisa cukup gampang aku sebutkan saja, makan inilah, itu lah, de el... el....

"no comment!", jawab ku serasa sudah menjadi artis, dan seperti yang aku duga, ia kembali tertawa terbahak-bahak. 

"Kamu menjalani hidup terlalu merumit, karena itu pertanyaan gampang menjadi begitu sulit. dalam hidup orang mudah sekali untuk mengungkapkan ketidak suka-an, tetapi terkadang diam bila mendapatkan kesuka-an. Membicarakan kejelekkan itu lebih sering dan gampang terjadi dari pada membicarakan suatu kebaikkan, seperti kamu, yang akan mudah menjawab bila ku tanya makanan apa yang tidak kamu suka? padahal coba kamu pikirkan lagi, jumlah makanan yang tidak kamu suka itu pasti lebih sedikit dibanding jumlah makanan yang kamu suka!", ujar nya panjang lebar dan aku seperti biasa diam untuk mengambil makna dari ucapannya yang seperti kultum sebelum tidur.

Hmmm..

sambil melirik ke piring kue nagasari, sekarang aku mencoba memaknai ucapan sahabat ku malam itu, "aaah bener juga, tuh kue nagasari sudah berapa buah ku lahap, kenapa semalam ia tak masuk sebagai sebuah jawaban sebagai salah satu makanan yang aku sukai,,  apa aku lupa, atau memang sama sekali tak menyadari kalau ia termasuk kategori makanan yang aku sukai!, oalaaah,,, ami,, ami,, gimana sih kamu ini!!! ucap ku lirih sendiri.

13 comments:

opickaza said...

kayknya rasanya mantab nih nogosarinya bikin ngiler aja dah jan

munir ardi said...

aku sukanya nagasari yang dibikin dari tepung puding wih makyus banget, bisa habis sepiring sambil ngeblog

yusani said...

tulisan yg sederhana tp terkandung makna yg dalam. Semangat!

Kiran Yatmorejo said...

renyah banget...

Ejawantah Wisata said...

Kue yang memilki bentuk sederhana dan rasa yang khas. Dan selalu daat membuat rasa penasaran dalam mencari sosok kue seperti itu.

Sukses selalu
Salam Wisata

siroel said...

klo di dusun saya di lombok itu kue namanya "lapis pisang", uenakkk...

Ridwan said...

Artikel yang sangat bagus .
haha , jadi pengen makan negosari lagi . pisang nya uenak.

Yayack Faqih said...

Ko namanya bsa sama ya? disini jg namanya nagasari yg mirip dengan limpung.

bener juga ya dengan makna yg di ambil dari obrolamnu via telepon. orang lebih cenderung tertarik pada hal hal yg memberitakan kejelekan orang lain. dikorek terus seperti berita infotainment yg ujung2nya kadang lebih mirip adu domba!

Angga Zulika Ramadhani said...

dingin...dingin gini enak tuh makan nagasarinya :D

HAHA, ujung-ujunganya habis juga tuh dimakan

Ferry Nurse said...

Nagasari termasuk salah satu makanan kesukaan tuh sob

Brebes VS Lamongan said...

kunjungan perdana genk memberi spot dulu genk. salam kenal genk kunjung balik'y genk ane tunggu.

Rawins said...

di palembang ada nagasari juga yah..?
kirain cuma ada di jawa doang..

obat penyakit stroke said...

makanan khas kampung aku
hihihi