Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Thursday, July 25, 2013

Filosofi Pewayangan

"Kamu tahu filosofi pewayangan tentang kepemimpinan yang baik?", akhirnya ia pun membuka mulutnya setelah kenyang mendengar keluh-kesah ku. Aku pun mendongakkan kepala, menatap mata nya sembari mencari jawaban atas pertanyaan sahabat yang selalu sabar menjadi tong sampah keluh ku. "Hmm,,, apa filosofinya?", tanya ku singkat setelah tak berhasil menemukan jawaban atas pertanyaannya.

"Hahahaha!! enak saja,, mau langsung dapat jawaban, usaha nya mana?", ujarnya sembari menderlik kan mata nya yang penuh canda. "Huuh,, pelitnya!! aku sedang malas berpikir!!", balas ku sembari melipat-lipat muka menjadi delapan belas lipatan. "Baik lah, dengarkan baik-baik, aku tak akan mengulang!", ujarnya  mengawali cerita dengan sebuah senyum. Aku pun membalas senyumnya dengan anggukan kepala.


Menurut filosofi wayang, untung menjadi pemimpin yang baik, maka harus memiliki delapan sifat pemimpin. yaitu:

Pertama, pemimpin yang baik harus memiliki sifat seperti matahari (surya), "Coba  lihat matahari, setiap pagi matahari selalu terbit di sebelah timur dan sore akan tenggelam di sebelah barat tepat pada waktunya. Dengan sinarnya, ia memberikan kekuatan, energi, semangat, dan harapan untuk hidup. Dari sifat itulah, seorang pemimpin seharusnya dapat mencontoh sifat kedisiplinan dalam menjalani kehidupan, selalu memberikan kekuatan, semangat, dan harapan bagi dirinya dan kemudian ditularkan kepada semua yang ada di sekelilingnya, terutama keluarga dan masyarakat. Selain itu, matahari pelita dunia dan diharapkan seorang pemimpin juga dapat berperan sebagai penerang kehidupan yang dipimpinnya. Jadi, jangan berlaku sebaliknya, menimbulkan ketidakdisiplinan kinerja, menciptakan situasi panas, tidak bersemangat kerja, dan menumbuhkan permusuhan satu sama lain.

Kedua, seorang pemimpin yang baik harus memiliki sifat bulan (candra), dimana saat malam dan sinar matahari sudah tidak lagi menerangi sebagian bumi maka sinar bulan akan menggantikan kedudukan matahari, yaitu penerang malam. Makna filosofisnya, pemimpin harus bisa mencontoh bulan yang dapat menerangi diri sendiri dan orang lain saat dalam kegelapan hati dan pikiran. artinya sebagai penerang, seorang pemimpin akan memberi nasihat, penjelasan, pendidikan, dan memberikan suri tauladan bagi orang yang belum mengerti atau yang sesat. Bukan sebaliknya, malah tidak memberikan contoh yang baik, mudah sekali berkata bohong dan bertindak diktator, serta membiarkan masyarakat tetap hidup dalam kegelapan.

Ketiga, jadilah bintang (kartika) karena Bintang dapat dijadikan sebagai pedoman para nelayan atau pelaut yang fungsinya dapat menggantikan peralatan kompas jika ingin bepergian berlayar pada malam. Filosofisnya, seorang pemimpin harus bisa memberikan pedoman atau petunjuk cara melangkah ke arah yang benar supaya tidak tersesat, menjadi teladan bagi orang lain, dan hendaknya dapat menampilkan diri dengan baik dan benar serta tidak mengajarkan KKN.

Keempat, seorang pemimpin harus bisa menjadi bumi, tanah atau kisma. Tanah atau bumi memiliki sifat sabar, welas asih atau murah hati. Biar bumi diinjak-injak, digali, dibom, bahkan diperlakukan apa saja, ia tidak akan bereaksi apa pun dan akan menerima apa adanya. Filosofisnya, seorang pemimpin hendaknya bisa mencontoh sifat bumi, yaitu sebagai tempat berpijak, tumpuan bagi yang berkeluh-kesah dan pengayoman masyarakat. Bukan sebaliknya, tempat keresahan, kegundahan, dan ketidakpastian.

Kelima, jadilah seperti laut, samudera atau baruna. Laut merupakan muara (hilir) semua sungai yang mengalir dari pegunungan (hulu), baik berasal dari sungai besar atau kecil, sungai bersih atau kotor (berpolusi), maupun sungai berkelok-kelok atau lurus. Filosofisnya, pemimpin hendaknya harus siap sebagai penampung berbagai kesulitan yang sedang dilanda masyarakat, penciptaan kehidupan, kesabaran, penyejuk, kehausan akan informasi, dan transformasi. Bukan menjadi penciptaan bencana dalam kehidupan yang sulit dan tidak mau menerima keluhan masyarakat serta apatis.

Keenam, jadilah api atau dahana. Sifat api adalah melahap apa saja yang ada di dekatnya tanpa melihat siapa, apa, kapan, di mana, dan mengapa. Filosofisnya, seorang pemimpin harus berani bertindak tegas dan tanpa pandang bulu dalam menegakkan kebenaran dan keadilan sebagai tempat penerang hati-nurani, pelita hidup dan kehidupan. Bukan sebaliknya, pemicu, provokator atau pembakar nafsu amarah dan nafsu setan serta membiarkan ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam tata kehidupan bernegara.

Ketujuh, jadilah angin atau maruta. Sifat angin bisa bertiup ke mana-mana dan ada di mana-mana yang tidak membedakan ruang, waktu, dan tempat. Nilai filosofisnya, seorang pemimpin harus bisa masuk ke segala lini, tidak membedakan suku, bangsa, ras, dan agama yang bisa dirasakan sampai ke masyarakat tingkat bawah sekalipun.

Kedelapan, jadilah langit atau angkasa. Langit merupakan tempat bagi benda-benda langit, yaitu bintang, bulan, meteor, dan komet. Pada saat langit mendung dan terlihat hitam kelam disertai suara gelegar guntur maupun kilatan petir yang akhirnya muncul hujan deras, langit tetap diam dan tidak pernah protes. Filosofisnya, seorang pemimpin harus tetap tegar, perkasa, dan percaya diri dalam menghadapi suara masyarakat yang kencang, tekanan para demonstran, lawan politik, dan berbagai tantangan lainnya. Pada saat udara cerah, langit pun cerah. Sehingga seorang pemimpin haruslah memiliki sifat berwibawa dan selalu bermanfaat. Munculnya suara sumbang, digoyang demonstran atau kelompok oposisi merupakan pelengkap isi negara.

"Nah, itulah filosofi pewayangan tentang pemimpin yang baik, sayangnya masih belum banyak pemimpin yang menggunakan filosofi aseli negara kita ini", ujarnya mengakhiri. Aku tersenyum  menganggukkan kepala dengan system otak yang bekerja berusaha mencerna tentang filosofi pewayangan.

5 comments:

BlogS Of Hariyanto said...

dari ke delapan filosofi tersebut, kira2 mana yg cocok dengan pemimpin negara kita...salam :-)

Frendli Wirnawan said...

filosofi yang bagus...

Hario Pamungkas said...

Kalo dalam dunia pewayangan yang punya ke-delapan sifat seperti di atas kira-kira siapa yaa..?? Hehe5..
Salam kenal ya, mbak..

-->> Harpa Blog

download software gratis said...

luar biasa filosofi nya, tapi siapa ya yang memilikinya? ^_^

tips aneh said...

seandainya pemimpin kita memiliki ke-8 sifat tersebut, pasti indonesia akan lebih maju. ^_^