Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Tuesday, January 14, 2014

Menghitung Hari

Memandang putihnya langit dari balik jendela, mengingatkan ku bahwa aku tinggal menghitung hari berada di sini. Kota minyak yang terkenal sebagai kota nomor dua penopang kekayaan Sumatera Selatan ini begitu memberi kesan.

Teringat kala aku pertama kali menginjakkan kaki di sini, terpersona akan keindahan kebun karet yang berjajar rapi. Tatap mata dari masyarakat yang ditemukan pun bermacam-macam, dan pastinya bersama tim ku, aku belajar mempercepat laju motor untuk mempersingkat waktu tempuh daerah dampingan yang jaraknya lumayan mumpuni.


Hampir genap tiga tahun aku di sini, ada cerita duka, ada juga cerita bahagia yang menyelimuti perjalanan. Gelak tawa kala bersenda gurau disetiap moment pertemuan LKM terbingkai indah di ingatan, begitu pun wajah-wajah bermuram durja beberapa LKM kala menceritakan betapa getirnya menghadapi masyarakat yang terkadang mencemooh niat baik mereka.

Problematika pun mewarnai setiap jengkal perjalanan, baik problematika yang datang di seputaran masyarakat dampingan, atau problematika yang terjadi diantara sesama personil tim. Tapi aku tetap beruntung, semua problematika tersebut terselesaikan dengan indah, seperti indahnya hujan di musim kemarau.

Aku sama sekali tak pernah menyangka, kegiatan RWT di masing-masing kelurahan di bulan Desember kemarin ternyata merupakan waktu terakhirku bertatap wajah dengan masyarakat daerah dampingan. Walau terasa begitu berat karena  belum sepenuhnya bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat dampingan, tapi aku harus bergerak mengikuti irama kehidupan, mengikuti kemana kaki kembali melangkah dengan kisah yang berbeda.

-------
Terima kasih untuk semua Bapak, Ibu, Kando, Yunda, Kance, dan Ading ku atas kerjasama dan bantuannya selama aku berada di kota Prabumulih ini, mohon maaf bila ada perilaku dan perkataan yang tak berkenan selama 3 tahun bersama. Tetap semangat menjadi motor penggerak dalam melakukan revolusi sunyi di kelurahan/desa, dan jangan pernah menyesal menjadi orang baik.

Terima kasih juga untuk kawan-kawan fasilitator di kota Prabumulih atas kerjasama, bantuan, serta bimbingannya selama ini. Mohon maaf bila ada kesalahan yang disengaja atau tak disengaja selama masa kebersamaan. Tetap semangat yaaa!! 

3 comments:

roel batu said...

setiap pertemuan selalu akan ada perpisahan.
tetap semangat :)

Inung Gunarba said...

nggak terasa juga ceritamu sudah terulur selama tiga tahun di prabumulih, setelah bertutur tentang curug, bengkulu.

setelah ini, kemana bi'? ngaso dulu di palembang?

tetap semangat, selalu tersenyum dan optimis! :)

Akhmad Muhaimin Azzet said...

Pengalaman di Prabumulih yang sangat berkesan tentunya....