Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Tuesday, April 12, 2011

Nia Sarah Lira Bandi

Nia duduk termangu di cafe berkonsep alami lesehan. Jus tomat di gelas nya tidak lebih dari satu per empat bagian lagi ketika ia melirik jam tangan berwarna merah muda nya. "Sudah lewat setengah jam, kemana dia?", tanya Nia kepada diri nya sendiri.

Sambil mengaduk-aduk jus di gelas, pandangan Nia menerawang ke langit yang berubah menjadi kelabu di balik jendela besar. Beberapa kali Nia mendesah... menahan rasa dongkol nya untuk menunggu sahabat yang tadi pagi menelepon sambil nangis-nangis. "kenapa juga aku lupa me-charge baterai handphone ku di saat seperti ini?", ujar Nia menyesali keteledorannya


***

"Ada apa ya pak?", tanya Sarah kepada pak sopir ketika taksi yang ditumpanginya sedikit pun tidak bergerak dari tempatnya. "Macet Non, ada pohon tumbang karena angin di depan sana", ujar Pak Sopir.

Berkali-kali Sarah memencet nomor tiga  di keypad handphone nya sebagai panggilan langsung untuk menghubungi sahabatnya yang pasti sekarang sudah menunggu di cafe, dan berkali-kali juga Sarah mendapati jawaban dari operator yang mengatakan kalau nomor yang di tuju sedang tidak aktif atau diluar servis area.

***
"Huh...", Nia kembali menghembuskan nafas letihnya. "Sepertinya Sarah tidak datang", ujarnya sambil berdiri dan melambaikan tangan ke pelayan cafe. Setelah membayarkan sejumlah uang ke kasir Nia melangkahkan kakinya ke luar cafe. Tiupan angin menyambut langkahnya ketika berjalan di pelataran parkir.

"Mbak... mau beli keripik pisang?", ujar seorang bocah perempuan yang berdiri di pinggiran batas taman cafe. Langkah Nia terhenti sesaat, setelah berkata tidak dengan lirih ia pun melambaikan tangan ke bocah itu, ia  meneruskan langkah nya yang tergesa-gesa  untuk berlomba dengan sang mendung. "Mbak.. keripiknya enak loh... ibu ku yang bikin", ujar bocah yang mengejar mengiringi jajaran langkah Nia. 

Warna wajah Nia berubah, ia menghentikan langkahnya dan memandang bocah perempuan  yang berdiri di depannya. Sesaat pandangannya bertemu dengan pandangan mata penuh harap bocah yang berpakaian lusuh tapi bersih itu. "Kamu tidak dengar? Aku bilang tidak!!", Bentakan Nia bagaikan suara geledek yang menumpahkan kekesalannya sebesar bukit. Sebersit ia memandang ada buliran bening yang akan tumpah di mata bocah itu saat ia meneruskan langkah nya.

***

Terasa dingin ketika setitik air hujan jatuh menerpa wajah sayu Lira. Bocah perempuan yang menenteng beberapa bungkusan keripik pisang di dalam kantong keresek lusuh itu berjalan menyusuri trotoar sambil menahan buliran bening di mata nya.

Lira teringat kejadian semalam, ketika ia secara tidak sengaja mendengarkan percakapan Bapak dan Ibu  di kamar saat hendak ke kamar kecil. "Ibu menangis Ya Allah.... Ibu yang tidak pernah lepas dari senyum setiap hari  semalam di dapati nya menangis..". Ingin rasanya semalam Lira langsung menghambur masuk ke kamar Bapak dan Ibu, tetapi semuanya terhenti ketika ia mendengar suara Bapak yang sejuk bagai air hujan menghibur ibu. "Ada apa dengan ibu?", bathin Lira bertanya-tanya dari tempatnya berdiri di sisi kamar berdinding kayu yang sudah kropos dimana-mana.

Lira berdiri sambil sesekali menyeka air mata saat mendengar percakapan itu. Ternyata inilah jawaban dari pertanyaannya ketika tak sengaja saat pulang sekolah ia pernah mendapati ibu terbatuk-batuk di dapur. Di telapak tangan ibu ia lihat ada sebercak darah. Ketika ia menanyakannya,  sambil tersenyum ibu hanya bilang kalau ibu batuk biasa dan ibu langsung mencuci tangannya di pancuran belakang rumah.

"Ibu kena kanker Paru, dan mesti segera di operasi", begitulah kira-kira isi surat yang dibawa bapak malam ini. Ibu menangis... Ibu menangis karena bingung... dari mana akan mendapatkan uang untuk biaya operasi.

Hari ini Lira sengaja berbohong kepada Ibu dan Bapak, Ia sengaja memakai seragam sekolah seperti biasa saat pergi dari rumah. Sambil mengendap-endap, ia mengambil bungkusan keripik pisang dan pakaian ganti yang semalam ia letak di bawah tumpukan kayu-kayu bakar di samping rumah dan langsung menuju pusat kota. Lira sudah bertekad, ia harus bisa menjual habis seluruh keripik pisang buatan ibu agar bisa membantu untuk biaya operasi ibu.

Angin kencang meniup tubuh kecil itu, sesekali tubuh Lira menggigil, di dalam dekapan hujan rintik-rintik,   sambil menahan dingin ia memeluk bungkusan keripik pisang di dada nya. "Ada apa di sana?", suara pelan keluar dari bibirnya ketika ia melihat ramai orang berkerumun di sisi jalan. Lira mempercepat langkah nya dengan penuh harap ke kerumunan tersebut. "Semoga kali ini kripik ibu ada yang beli", ucapnya lirih.

***

Sarah merasa roda taksi yang ditumpanginya berjalan bagaikan gerak kura-kura. Entah sudah berapa kali ia menghenbuskan nafas kesal. Ia mengepalkan jari-jari di atas pangkuannya. "Aku sudah sangat terlambat!", jerit nya dalam hati.

"Apakah Cafe nya masih jauh pak?", tanya Sarah. Pak Sopir sesaat menoleh ke arah Sarah, "Kira-kira satu kilo meter lagi di depan non", jawabnya. "Baiklah.. aku turun di sini saja pak... ", ujar Sarah sambil menyodorkan uang seratus ribu ke Pak sopir, tangannya sibuk membereskan isi tasnya yang berantakan sambil menunggu uang kembalian. "Terima kasih non,, maaf pelayanannya tidak sempurna", ujar Pak Sopir sambil menyerahkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan kepada Sarah. "Ya Sudahlah...", ujar sarah dan meraih pintu taksi.

"Sial!!", sungut Sarah ketika sepatunya menginjak genangan air di trotoar jalan yang sudah tidak mulus lagi. Kaki-kaki panjangnya melangkah bagaikan derap jerapah ke arah kerumunan orang yang memandangi pohon tumbang. "Semoga Nia masih di sana!" harapnya dalam langkah yang sudah bagaikan lari phoenix.

"Bruuk!!!", langkah Sarah sempoyongan ketika ia menabrak seorang bocah yang membawa bungkusan keripik pisang. Seluruh bungkusan keripik pisang itu berhamburan keluar dari kantong kresek hitam yang robek karena terjatuh bersama si bocah. "Kalau jalan itu pake mata!", hardik Sarah kesal sambil berlalu menembus kerumunan.

***

Lira merintih menahan perih kakinya yang luka tergores trotoar jalan saat terjatuh. Ia juga tidak tahu bagaimana bisa ia bertabrakan dengan kakak cantik bersepatu bagus itu. "Aaah.. mungkin memang ini salah ku, mungkin aku kebanyakkan melamun", ujarnya lirih sambil meraih mengumpulkan bungkusan keripik pisang yang berhamburan di trotoar. Setelah semua bungkusan keripik pisang terkumpul, Lira menatap ke kantong kresek hitamnya yang telah robek. "Kantong ini tidak bisa dipakai lagi,,", ujarnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling,, berharap ada kantong kresek lainnya.

"Tidak ada..", ujarnya lirih dan kemudian bangkit dari duduknya. Dengan langkah terseok-seok menahan perih kaki nya, Lira mendekap bungkusan-bungkusan keripik pisang dengan menggunakan baju kaos lusuh nya sebagai penampung sementara. "Alhamdulillah... di sana ada warung!! mungkin yang punya bisa memberi ku kantong kresek bekas", ujarnya sambil tersenyum dan bergegas melangkahkan kakinya. Rasa perih luka karena terkena genangan air hujan tak lagi di hiraukannya, sampai ia melihat sosok yang sangat dikenalnya sedang duduk merokok di bangku panjang di samping warung.

***

Pak Bandi menatap sosok penumpang nya yang berlalu tergesa-gesa dari taksi nya. "Sepertinya memang butuh lama untuk membereskan pohon yang tumbang itu", ucapnya lirih sambil memarkirkan taksi nya ke sisi jalan di depan sebuah warung kaki lima.

Setelah membayarkan sejumlah uang untuk satu puntung rokok yang di beli nya, Pak Bandi pun duduk di bangku panjang di samping warung. Asap rokok mengepul dan sekali-kali membuatnya terbatuk-batuk. Sudah lama ia berhenti merokok, tapi entah kenapa hari ini ia pun kembali merokok.

Sepanjang hari ini, pikiran pak Bandi kalut memikirkan istrinya yang sakit dan mesti segera di operasi. "Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu? dengan keadaan taksi yang sekarang sepi penumpang", keluh nya sambil menatap ke arah kerumunan orang di dekat pohon tumbang.

"Lira!", ujar Pak Bandi, tenggorokannya terasa tercekat saat mata nya menangkap sosok bocah yang berjalan terseok-seok ke arah nya. Setelah menginjak puntung rokoknya, Pak Bandi pun segera berlari menghampiri putri nya. "Kamu kenapa nak? kenapa di sini? kamu tidak sekolah?", tanya Pak Bandi sambil memeluk tubuh ringkih Lira.

"Maafkan Lira Pak....Lira sudah bohong sama Ibu dan Bapak... hari ini Lira bolos sekolah", ujar Lira sambil terisak.

***

"Ini cafe nya!", ujar Sarah dengan nafas terengah-engah setelah sampai di depan pintu Cafe. Pandangannya sejenak memutar mencari sosok Nia di antara pengunjung yang duduk lesehan di Cafe yang interiornya di dominasi bambu. "Kamu dimana Nia??", ujarnya sambil terus memencet nomor tiga di keypad handphone nya. Tetap tak ada jawaban.

Sarah pun segera melangkah keluar dari cafe, sejenak ia berhenti dan berdiri di pelataran parkir seakan-akan memikirkan sesuatu. "Nia... kamu dimana?", berkali-kali kalimat itu menghiasi bibirnya sambil melangkah keluar dari gerbang cafe...

Setelah memutar pandangannya ke sekeliling.. akhirnya ia menemukan sosok yang sedang ia cari. sosok itu berdiri di tepi jalan sambil sesekali menghentak-hentakkan kaki kanan nya... Sarah tersenyum senang.. dan segera berlari menuju sosok itu, "Niaaaa!!!" panggilnya.


***

Nia berdiri di tepi jalan menanti adanya taksi yang lewat. Sesekali ia menghentakkan kaki kanannya untuk menghilangkan rasa jenuh. Sayup-sayup ia mendengar ada yang memanggil namanya, segera ia mencari asal suara dan mendapati sosok sahabatnya yang baru saja kembali dari Australia itu. "Kamu kemana saja.. aku sudah lama nunggu!", ujarnya sambil memasang muka cemberut. "Maaf Sis.. di ujung sana ada pohon yang tumbang dan menutupi badan jalan, ini saja aku berjalan satu kilo-an untuk sampai di sini", ujar Sarah sambil menunjuk ke arah pohon yang tumbang.

"That's Ok!! Forget it, sekarang apa yang bisa aku bantu?", tanya Nia. Sarah segera morogoh mencari sesuatu di dalam tas nya, dan tak lama kemudian ia mengeluarkan secarik kertas yang dilipat dua."Bantu aku menemukan alamat ini..!", ujarnya sambil menyerahkan kertas itu kepada Nia.

Nia pun membuka lipatan kertas putih itu dan kemudian membaca nya secara seksama. "Ini alamat siapa?", tanya Nia meminta penjelasan. "itu alamat orang tua kandung ku, aku membutuhkannya untuk menjadi wali ku saat hari pernikahan ku nanti", ujar Sarah dengan raut wajah sedih. "Orang tua kandung mu?", tanya Nia tak mengerti.

***

Pak Bandi merasakan dada nya menjadi sesak setelah mendengar pengakuan Lira. Sekarang putri kecilnya itu telah tertidur kelelahan di kursi samping tempatnya mengemudi. "Dia terlalu kecil untuk ikut menanggung beban ini", bisiknya lirih sambil melajukan taksi nya yang sekarang sudah bisa bergerak merayap menuju rumah.

***

Beberapa lama Nia dan Sarah hanya terdiam membisu, sampai sebuah taksi berwarna putih melaju di  menuju ke arah mereka. Nia dengan sigap menghentikan laju taksi itu. "Kamu harus ceritakan semua nya di taksi", ujar Nia  sambil membuka pintu dan masuk ke dalam Sarah pun kemudian mengikuti.

Nia hanya terdiam ketika mendengar semua cerita dari sahabatnya ini. Ia sama sekali tidak menyangka, kalau seorang Sarah yang terkenalnya sebagai anak seorang pemilik perusahaan Swasta terbesar di kota nya ini ternyata hanyalah anak angkat. Ia diangkat anak oleh Papa dan Mama nya dari sebuah keluarga sederhana yang dulunya bekas pembantu di keluarga itu. Dan sekarang, saat ia akan menikah satu minggu lagi,, segalanya nya kemudian barulah terungkap.

Sekarang taksi yang mereka tumpangi sudah sampai ke alamat yang tertera di secarik kertas. Mereka mesti masuk ke gang perkampungan dengan berjalan kaki, karena gang ini hanya mempunyai lebar satu meter saja.

"Terima kasih buk!", ujar Nia kepada seorang ibu yang menjadi tempatnya bertanya. "Masih jauh ya?", tanya Sarah. "Kalau menurut ibu itu ga jauh lagi, rumah nya ada di ujung gang ini", jawab Nia. "Apakah rumah yang ramai orang itu?", tanya Sarah sambil menunjuk ke arah rumah di ujung gang yang ramai orang. "Bisa jadi, ayo kita ke sana", ajak Nia sambil berlari-lari kecil.

***

Pak Bandi dan Lira Berlarian menuju ke rumah nya. Tadi, ketika taksi nya berhenti di ujung gang, Pak RT langsung menghampirinya dan mengatakan tentang keadaan istrinya yang ditemukan sudah meninggal di samping rumahnya saat sedang menjemur pakaian.

Lira langsung menghambur masuk dan menjerit histeris memanggil ibu nya yang terbaring ditutup kain putih. Pak Bandi hanya bisa duduk tertegun menatap kejadian yang sangat tiba-tiba ini di depan jenazah istri nya.

***

"Maaf Pak, apa benar ini rumah Pak Bandi?", tanya Nia kepada seorang bapak yang memakai baju kemeja hitam. "Betul non, ini rumah Pak Bandi", jawab bapak itu. "Terus... memang sekarang apa yang terjadi pak? ", Nia kemudian kembali bertanya. "Istri nya meninggal secara mendadak non, maaf bapak permisi dulu,, mau ngurus proses pemakaman", jawab bapak tersebut sambil berlalu.

***

Sebelum bapak berkemeja hitam itu selesai berkata-kata, Sarah sudah terlebih dahulu menghambur menuju ke dalam rumah meninggalkan Nia. Sesaat ia berhenti di depan pintu dan memandang sosok Bapak sopir taksi yang taksinya ia tumpangi, dan sosok bocah  penjual keripik pisang yang ia tabrak di trotoar jalan duduk berurai air mata di sisi jenazah yang tertutup kain putih. Sarah terdiam tak bisa berkata apa-apa sampai akhirnya semua menjadi gelap.

-------------------


5 comments:

Djangan Pakies said...

assalamu'alaikum Ning Amie ...
kunjungan pertama pada template yang baru. Usul, kayaknya cakep yang kemarin.
.....
kisa sedih dari keluarga Pak Bandi karena kehilangan salah satu pilar hidup rumah tangganya. Namun ada semangat si Lia dan penyesalan Sarah terhapa apa yang terjadi, semua memberikan makna yang baik dalam pembelajaran hidup

Noor's blog (inside of me ) said...

Sungguh mengharukan membaca ceritamu Mba. sungguh malang nasib Lira, tekadnya yang kuat untuk mencari biaya berobat ibunya sehingga berani berbohong dan meninggalkan sekolah, berakhir sia-sia.
Dan bagi Sarah, ia begitu terpukul saat mengetahui orang tua kandung yang dicarinya, ternyata sudah tiada dan begitu shock karena mengetahui telah berlaku kasar pada adiknya sendiri...

Hiks..hiks..jadi sedih bacanya

tiwi said...

asswrwb.... hiks, endingnya bikin sedih...

Arief Bayoe Sapoetra said...

Bagus & mengharu biru mbak.... sebenrnya dari kemarin aku baca cuma fikiranku nggak teang jadi tidak bisa mencerna cerita ini...... Koplingnya(***) kebanyakan mbak pembaca kalau tidak mempunyai konsentrasi yang tinggi pasti agak bingung..... bukan menggurui mbak cuma saran buat kita sama bersemangat menciptakan karya lagi.... karyamu banyak menginspirasi ku mbak...terima kasih....:)hehehehe salam hangat

Bippi said...

ceritanya sedih sob...mewek dulu ahhh...mmmmm