Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Tuesday, June 28, 2011

Mengapa Fasilitator Berasal dari Luar Kota Prabumulih?

Hemm… sudah terlalu lama aku meninggalkan aktifitas menulis diblog. Alhamdulillah sekarang aku mulai menikmati kebersamaan dengan team baru ku. Dan sekarang juga aku sadar, ternyata semua yg berkenaan seperti larangan ke desa sendirian, adalah sesuat yg terbaik untuk ku juga (memang dasar aku nya yang bandek kale yaa...) ,,so... sekarang jadi semangat!! :)
 
Ok.. back to the topic……….

“Mengapa Fasilitator Berasal dari Luar Kota Prabumulih? “, pertanyaan ini terlontar kepadaku dari seorang perangkat UPK (Unit Pengelola Keuangan) LKM Bersatu – Kelurahan Gunung Kemala, dikala pertemuan hari Jum’at (27/05/2011) kemarin di rumah secretariat.

Hmm… bagiku pertanyaan diatas sangat menohok sanubari ku yang paling dalam, sama seperti rasa dulu waktu aku masih bertugas di kota Curup. Yup… Aku sendiri sadar.. aku tergolong Fasilitator Penjajah (Istilah ku menyebut Fasilitator bukan Putra Daerah- istilah ngarang sendiri sih, hehe). Berjuta rasa saat aku pandang wajah bapak UPK itu, Ya Tuhan… ternyata mereka merindukan sosok Fasilitator dari daerahnya sendiri ujar ku dalam hati.

“Mengapa bapak bertanya seperti itu?”, ujarku menggali alasan di forum diskusi santai ini. Bapak itu tersenyum-senyum malu, mungkin beliau masih merasa canggung berbicara pada ku di diskusi pertama kami itu. Aku pun tak mau kehilangan akal mencairkan suasana diskusi agar lebih relax.. setelah melontarkan beberapa joke.. akhirnya si bapak mau juga mengungkapkan alasannya.

“Kami di Gunung Kemala ini sudah beberapa kali terjadi pergantian fasilitator sejak tahun 2007 sampai dengan sekarang. Dan semua fasilitator berasal dari luar kota Prabumulih (Palembang-red). Terkadang kami sama sekali tidak tahu saat terjadi pergantian Fasilitator, tiba-tiba datang Fasilitator baru lagi yang bertugas di kelurahan kami ini. Nah, fasilitator yang lama saat kami hubungi ternyata sudah pindah wilayah, atau malah berhenti dan berganti profesi”, ujar nya sambil di sambut anggukan kepala dari anggota LKM lainnya.

“Bapak sering berandai-andai, bila saja Fasilitator itu aseli orang Prabumulih, pasti ceritanya akan lain. Kami pasti akan lebih mudah menemui mereka dikala kami membutuhkan.

Saat itu aku hanya tersenyum simpul, dan kemudian sambil dengan sedikit bercanda untuk mencairkan suasana yang rada mellow, aku pun mencoba mengingatkan kembali tujuan awal dari Program PNPM, yaitu: Untuk menjadikan masyarakat yang asalnya dari jenjang masyarakat tidak berdaya, kemudian menjadi masyarakat berdaya, menuju masyarakat mandiri, dan berakhir menjadi masyarakat yang madani.

Program PNPM yang awalnya dikenal dengan P2KP pertama kali dilakukan di Pulau Jawa dan Sulawesi yaitu pada tahun 1999, tapi baru masuk ke Pulau Sumatera pada tahun 2006. Otomatis, karena di Pulau Sumatera Program ini masih tergolong baru, maka banyaklah di datangkan Fasilitator-fasilitator dari luar untuk terlebih dahulu memberi contoh, dan bila akhirnya telah tumbuh bibit-bibit penerus, maka biasanya fasilitator-fasilitator itu pun kembali ke daerah asalnya.

Demikian juga dengan Fasilitator di Kota Prabumulih, apabila nantinya ada bibit-bibit penerus putra daerah aseli Prabumulih telah bisa menjadi fasilitator untuk wilayahnya sendiri, aku dan kawan-kawan akan dengan senang hati meninggalkan kota ini, karena bila hal ini telah terjadi artinya proses pendampingan kami bisa dibilang berhasil,, maka… dipersilakan bapak-bapak sekalian bilang, “Heii Ami.. kami tidak butuh lagi kamu!! Kami sudah bisa menjadi Fasilitator untuk daerah kami sendiri!!” ,ujar ku sambil bercanda , semua yang hadir di forum tertawa.

“ Tapi Mi, Anak-anak kami di sini sudah banyak yang mengajukan surat lamaran untuk menjadi Fasilitator, kok tidak ada yang dipanggil ya?”, celetuk seorang anggota LKM. Aku kembali senyum bahagia, ternyata anggota diskusi sudah tidak canggung lagi bicara mengungkapkan pertanyaan. “Untuk menjadi Fasilitator itu gampang-gampang susah pak,, selain memang sudah menjadi tulisan takdir kehidupan, untuk menjadi seorang fasilitator harus juga memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, baik itu syarat akademik maupun syarat pendukung lainnya (pengalaman pendampingan masyarakat), jawab ku yang kemudian menjelaskan secara umum tentang persyaratan tersebut.

Kemudian setelah pembicaraan yang topicnya sedikit melebar ini terlihat sudah menemui titik akhir, maka  semua anggota setuju untuk meneruskan agenda pertemuan selanjutnya.


5 comments:

Adit Mahameru said...

karena, fasilitator Prabumulih sedang di luar Prabumulih, yakni di Jogja...tunggu aku pulang ke Prabu ya sodara2....Insya Allah..dan terima kasih atas kepercayaan anda semua warga Prabumulih....

Bang Pendi said...

mungkin karena persyaratan untuk jadi fasilitator yang cukup ketat itu yang membuat belum muncul putra prambulih. tapi dengan bimbingan Mba Ami, saya yakin tak akan lama lagi ada yang muncul...

Herdoni Wahyono said...

Mengapa fasilitator berasal dari luar kota Prabumulih ? Pertanyaan yang menarik. Tentu saja fasilitator harus dipilih sesuai dengan kriteria dan kompetensinya. Indonesia adalah negara dengan jumlah suku yang sangat banyak sekali. Kita berharap perbedaan ini tidak menjadi kendala dalam mengabdi di tanah air ini. Kami jadi teringat pada awal-awal reformasi dulu, banyak pegawai yang 'kebetulan' dari suku 'X' yang pulang kampung balik ke daerah asalnya. Persatuan dan kesatuan harus tetap dijaga. Rukun dan saling menghormati. Karena Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu Jua. Semoga sukses di tempat tugas yang baru ini. Dharma baktimu yang tulus ditunggu oleh Ibu Pertiwi.

tiwi said...

kenapa ya?? *garuk2, mungkin kl berasal dr luar kota prabumulih lbh didengerin kali ama masyarakatnya? krn mrk otomatis lbh segan... betul gak jawabanku?? ^_^

Nyayu Amibae said...

Adit : hahahaha... iki loh fasilitatornya kabur ke Jogya...wkwkwk

Bang Pendi : rasanya persyaratannya ga terlalu ketat bang,, cuma memang harus ada nasib kayaknya tuk jd fasilitator...wkwk

Sob Herdoni :mari kita bersama melakukan yg terbaik tuk ibu pertiwi.. :)

Sis Tiwi : bisa jadi jawabnnya bener sis, tapi yg pasti aku akan seneng klo memang akan banyak fasilitator asli prabumulih, biar ga perlu makan waktu tuk adaptasi wilayah kayak aku..hehe