Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Saturday, August 4, 2012

Perbincangan dengan Bintang

Aku terdiam, terpukau akan terangnya rembulan di bulan Ramadhan, merasa takjub akan kerlap-kerlip sang bintang yang bertebaran di langit terang dengan sesekali sang bayu menelisik menyentuh ku, yang tetap terpaku di indahnya malam ini.

Berbagai macam rasa dan asa melintas silih-berganti yang menambah beban berat di dalam hati. Sekilas bayang ia yang jauh di sana memenuhi memori otak ku yang tidak cukup besar ini. "Ah,, ingin rasa nya aku tumpahkan segala rasa dan asa kepada sang bintang, tapi ku lihat sang bintang hanya berkedip dan menyunggingkan senyumnya yang paling manis.

Dengan menghela nafas panjang, aku tetap memandang ke bintang yang bertebaran di langit yang gelap. Aku selalu kagum, ya,, kagum sekali kepada bintang yang bisa memberi terang di kegelapan, yang bisa bersinar indah di pongah nya langit berwarna hitam.

"Please,, biarkan aku berbincang dengan mu dengan bahasa diam kita! bahasa yang hanya dimengerti oleh kita tanpa satu pun orang lain yang tahu, kecuali Allah tentu nya." ujar ku berteriak dalam hati dengan sedikit memaksa.

Kini, sang bintang tersenyum dengan kerlipnya, yang bersinar indah bersama sejuta rahasia yang ada di permukaan bumi, termasuk rahasia perbincangannya dengan ku.

13 comments:

Mas Huda said...

aku malah terkonsentrasi dengan dinginnya suasana Ramadhan walaupun memang kadang sesekali tetap menikmati indahnya purnama

anotherorion said...

"Please,, biarkan aku berbincang dengan mu dengan bahasa diam kita! bahasa yang hanya dimengerti oleh kita tanpa satu pun orang lain yang tahu, kecuali Allah tentu nya."

kata2 yang bagus, salam kenal :D

zan P O P said...

waktu kecil kalo mandangin langit pas langit cerah sangat banyak bintang yang bertebaran, tp sekarang walau langit cerah namun bintang di langit kok tidak sebanyak dulu ya...

a.i.r said...

ada saja yang bisa tercipta akibat menyapu pandangan pada langit yang gemerlap.. :)

Penanti Hujan said...

chika juga suka memandang bintang

memperhatikan cahaya indah yang berpendar, mengingatkan kita betapa kecilnya kita

Wawank said...

diksi yang mengusik hati hingga aku dapat mengatakan "asyiiiik"

terus menulis kawan..

Suhardi said...

mantabb bgt

Fatyana Rachma said...

Suka bintang dan hujan ya?
^_^

Halaman Samping-nya Inung Gunarba said...

Jaman kecik eh kecil dulu, waktu depan rumah masih berupa sawah dan ladang, aku suka telentang di rerumputan.

Siang, kadang malam.

Tengadah ke langit, mengikuti pergerakan mega dan intim dengan kerlip bintang. Memang iya, seolah berbincang dalam diam dan imajinasi berlari tanpa tepi :)

birthday party said...

nice post :D

Ferdinand said...

Itu yang di Image, Anime apaan ya mi? kok kayanya aku pernah nonton ya... *mikir

Hem... samaan kita... aku juga paling seneng duduk sendiri ngeliatin bintang, apalagi klo lagi dikampung, udah jalan jarang ada lampu, bintang yg keliatan juga buanyaaakkk banget... :)

Campoeng Cmoneng said...

Ya memang melamun paling pas saat malam sepi, penuh bintang, sendirian, tap jangan sering-sering loh

Kontraktor said...

cerita yang inspiratif.. lanjutkan kawan..