Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Sunday, November 18, 2012

Kala Orkestra Hujan Mulai di Dendang kan

When the rain is pouring down
And no one is around...
All the doors are closed
You're a stranger in this town
Wandering around and you feel lost

Ku lihat ia menutup kedua telinga nya dengan telapak tangan, erat sekali ia menutupnya, seperti ingin suara gemuruh di langit malam ini tak bisa menyisip sedikit pun ke gendang telinga nya. Orkestra hujan yang berirama syahdu ternyata sama sekali tak ingin ia nikmati sedikit pun.

Beberapa saat kami saling berdiam diri dengan sesekali cahaya kilat di luar jendela membias di jendela yang berembun, dan sahabat ku yang memakai jilbab berwarna merah marun itu tetap pada posisi awalnya.


"Sampai kapan engkau akan begini ? tidak kah kau lihat hujan ini merupakan barokah Allah yang indah?", tanya ku pelan memecah kesunyian. 

Sesaat ia bergeming, menarik nafas dan menurunkan kedua telapak tangannya dari telinga, mata nya yang berkaca-kaca menahan tangis beradu pandang dengan ku. "Aku tak tahu harus bagaimana, aku merasa seperti pecundang kala hujan turun, aku sudah mencoba melawan rasa ini, tapi aku tetap tak bisa, Hujan selalu mengingatkan ku pada peristiwa hari itu", ujar nya dan sekarang ia pun mulai terisak.

Kini aku yang menarik nafas dalam, mengingat peristiwa yang terjadi setahun yang lalu, peristiwa yang merubah cara pandang sahabat ku ini tentang hujan, peristiwa yang membuat sahabat ku selalu meneteskan air mata kala orkestra hujan mulai di dendang kan.

Awal aku mengenal sahabat ku ini, aku selalu melihat keceriaan yang selalu terpantul di jernih bola mata nya, sampai pada saat kejadian sebuah banjir bandang karena hujan deras berhari-hari di desa nya menghanyutkan rumah dan keluarga yang paling ia sayangi. Kala ia masih dirundung kesedihan, sehari kemudian ia pun kehilangan orang yang ia kasihi karena tertimpa pohon yang tumbang tertiup angin kencang disertai hujan. kekasih yang akan menikahinya satu bulan yang akan datang itu tewas ketika berkendaraan sepulang kerja.

"Tapi, kamu tak akan pernah sendirian, kamu memiliki kami sahabat-sahabat mu. Aku tidak meminta mu untuk melupakan peristiwa itu, tapi aku tak ingin kamu selalu terperangkap sedih kala hujan turun. bangkit lah sahabat ku! Dunia ini indah, kala kita bisa melihat nya sebagai keindahan, begitu pun sebalik nya",ujar ku berusaha merangkai kata untuk menariknya keluar dari kesedihan.

Suasana kembali membisu, tak ada tanggapan apa pun dari nya kecuali ku lihat ia menyeka air mata nya sembari memandang ke luar jendela dengan suara orkestra hujan tetap mengalun.


When nobody wants to hear
What you want to say
And you feel down when your hope has disappeared
Like a morning train, You can't slow down

I'm just like you,
Oh you know it's true
Don't give up my friend
This is not the end...

4 comments:

Ibrahim Sukman said...

Jadi inget lagu ini:
Dimana kawanku... inginku menyapa
Beri aku ruang... tempatkan diriku
Dimana kawanku... semakin menjauh
Beri aku arti... tak ingin berbeda
(Sedih banget Mbak? Oh ya cara tuker link gmn yah?)

munir ardi said...

aku kadang termenung, kadang tersenyum kadang pula bersedih , begitu banyak kenangan dalam hujan
Strange foreign beauty
nobody knows the secret in your heart

Dhymalk dhykTa said...

I can feel your sister's heart..so deeply..
When her soulmate loss in forever, just one word to her "semoga dikuatkan",,
Memang beraat..but life must go on..it's her luck having good friend like u..

Rengga gps said...

Malem sobat..
Waw nice post..
Yang post sebelum nya juga bagus tapi ini lebih baik dari yang lalu..:)
terus berkarya ya..
Haha..:D
oh ya mampir juga ya ke my blog..:)