Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Thursday, November 15, 2012

Pelangi Sehabis Hujan (Inovasi di Desa Kemang Tanduk)

Desa Kemang Tanduk
Indonesia yang lebih terkenal dengan sebutan bumi katulistiwa adalah negara kepulauan yang indah dan kaya. Indah akan pemandangan dan sumberdaya alam nya menjadikan Indonesia sebagai magnet yang menarik investor asing berduyun-duyun datang ke negara ini.

Begitu pun dengan Kota Prabumulih Propinsi Sumatera Selatan, Kota kecil yang lebih dikenal dengan sebutan kota Minyak ini, merupakan kota penghasil minyak, gas alam dan batubara yang cukup besar dan dominan ikut andil menyebabkan Sumatera Selatan di sebut sebagai lumbung energi.

Selain beraktifitas sebagai pekerja di perusahan pertambangan, sebagian besar penduduk asli kota Prabumulih  menggantungkan penghasilan sehari-hari nya dari bertani karet, terkadang mereka mesti gigit jari bila harga karet menurun drastis tanpa bisa tahu apa penyebabnya. Seperti seekor tikus yang akan mati kelaparan di lumbung padi. pepatah tersebut bisa mengibaratkan dilematis kehidupan penduduk di sini.

Berbagai cara dan upaya dilakukan oleh penduduk asli kota Prabumulih untuk dapat keluar dari dilematis kehidupan yang selalu berulang setiap tahunnya ini, salah satu nya adalah melakukan inovasi pengembangan kapasitas dan keterampilan. Penggalian potensi diri menjadi fokus utama, pembangunan paradigma "out of the box" pun dipilih agar dapat mewujudkan impian.

Proses Kegiatan Menganyam
Seperti hal nya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kemang Tanduk Kecamatan Rambang Kapak Tengah Kota Prabumulih, dengan memanfaatkan buluh (bambu) yang banyak tumbuh di desa, tercetuslah sebuah ide untuk menciptakan suatu kegiatan usaha kerajinan anyaman bambu.

Kegiatan ini diawali dengan melakukan pelatihan menganyam. Pelatihan ini dijadikan sarana untuk menambah keterampilan. Pesertanya adalah para kaum wanita, dengan alasan kaum wanita juga harus diberi kesempatan untuk berinovasi mengembangkan kapasitas yang dimiliki. Ketekunan yang dimiliki kaum wanita pun pun menjadi alasan utama. 

Pelatihan anyaman bambu ini, di biayai dari dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) kegiatan sosial  PNPM Mandiri Perkotaan, setelah mendapat cukup keterampilan menganyam dari proses pelatihan, para kaum wanita ini pun mulai mengepakkan sayap nya, berbagai produk anyaman pun tercipta. Para kaum lelaki juga tak mau kalah, mereka mengusahakan pemasaran dan proses kerjasama keberbagai instansi untuk mendukung kegiatan ini. Dari usaha proses kerjasama tersebut, diperolehlah bantuan sebuah mesin jahit yang sangat berguna untuk menciptakan produk anyaman yang lebih inovatif.

Contoh Produk Anyaman
Produk Siap dipasarkan
Sekarang, produk anyaman bambu dari Desa Kemang Tanduk sudah lumayan terkenal, berbagai event di ikuti, dari pameran, bazar, dan lain-lain dengan maksud sebagai media promosi. Seperti pelangi sehabis hujan, Dari kegiatan anyaman bambu ini pun, masyarakat desa Kemang Tanduk menuju proses mandiri dan  memperoleh penghasilan tambahan selain dari menjadi petani karet. 


"Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.“

6 comments:

munir ardi said...

kontes yang sangat positif semoga kepedulian bumi perbankan terhadap usaha kecil semakin besar

baju muslimah bandung said...

Umk harus terus didukung, biar ada asa di antra pengusaha yang baru merintis usaha

yahya said...

Kerja keras harus diiringi dengan do'a,.

siroel said...

wuii... hasilnya jd keren bgt... moga sukses sll usaha ini...

Ferdinand said...

Berarti klo pas Harga Karet turun mereka langsung banting stir ke Anyaman dan baru balik jadi petani karet lagi klo harga karet kembali normal, gitu ya sis? ini nih yg mestinya ditinjau ama pemerintah fiuh!...

ekoph said...

Semoga menang .