Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Tuesday, February 5, 2013

Si Abang Penjual Keripik Singkong

Hampir satu bulan ini aku selalu melihatnya, si abang penjual keripik singkong yang mendorong pelan gerobak merahnya kala berpapasan dengan ku yang baru keluar dari kontrakkan. Sepertinya, komplek perumahan di sekitar kontrakkan menjadi tempatnya untuk beroperasi menjajakan dagangan. Entah itu hujan, panas atau mendung, aku selalu melihat semangatnya yang ber-asa pada keripik singkong yang terkadang terlihat masih penuh menggunung di dalam gerobak.

Sore tadi, sebelum pulang, aku bersama seorang teman satu team memutuskan mampir di warung pempek langganan yang tak jauh dari posko. Menu yang kami pesan adalah model (model = nama makanan turunan  pempek yang diberi kuah-red) karena memang hanya menu ini yang masih ada, menu lain sudah out of sell kata si pemilik warung.

Karena kami memang belum makan siang, maka tak memerlukan waktu lama untuk habis melahap si makanan bernama model itu. Setelah selesai makan, kami masih betah duduk sambil bercerita di warung kecil tapi ramai itu.

Sesaat, lewatlah si abang penjual keripik singkong yang selalu berpapasan dengan ku setiap pagi. Ia berjalan pelan menyisir pinggiran jalan tangkuban perahu kota Prabumulih, entah sudah berapa kilo ia berjalan mendorong gerobak merahnya karena keripik singkong di gerobak terlihat tinggal sedikit. 

"berapa satu kilonya bang?", tanya seorang ibu yang duduk tepat di depan meja kami dengan sedikit berteriak. Si abang penjual keripik singkong menghentikan gerobaknya tepat di seberang jalan depan warung seraya menjawab, "tiga puluh ribu buk!", jawabnya. Si ibu pun mulai menggunakan naluri nya sebagai perempuan untuk menawar harga, "dua puluh ribu saja bang!", ujarnya setengah berteriak dan langsung disambut jawab oleh si abang, "dua puluh delapan ribu buk!".

Si ibu langsung berjalan menuju gerobak merah di seberang jalan, sepertinya sudah ada kesepakatan harga antara si abang dan si ibu. Terlihat si ibu memborong habis semua keripik singkong di gerobak merah. Sekilas aku melihat sebuah senyum tersungging di wajah si abang penjual keripik singkong, dan menurut perkiraan ku tentu nya si abang ini senang sekali, kalau dagangan nya hari ini terjual habis.

Tak berapa lama, si ibu sudah kembali lagi ke warung, dan si abang penjual keripik singkong melanjutkan perjalanannya dengan mendorong gerobak merah yang sudah kosong.

Aku dan teman ku pun melanjutkan menghirup si sirup jeruk yang tinggal setengah di gelas, sampai kami dikejutkan oleh suara menggelegar, dan ternyata si abang penjual keripik singkong bersama gerobaknya kena tabrak lari. Sesaat semua tertegun, kemudian beberapa warga yang ada di sekitar tempat kejadian menghambur keluar rumah untuk membantu si abang, termasuk beberapa ibu-ibu yang ada di warung.

Gerobak merah itu pun dibantu berdiri, semua kaca nya pecah, semua menghujat si penabrak lari yang memakai sepeda motor, beberapa orang mempunyai sugesti kalau si abang sengaja di tabrak, entah karena modus apa yang pasti semua bersimpatik kepada si abang. "Kasihan,, nasib orang kecil, yang susah-susah mencari sesuap nasi!", ujar si empunya warung terlihat gemas.

Aku terhenyak, ternyata sebentar sekali senyum itu tersungging di wajah si abang, yang ada saat itu adalah  wajah cemas si abang karena semua kaca gerobak merah itu pecah, pastinya ia berpikir bagaimana ia harus mempertanggung jawabkan kondisi gerobak dengan si empunya. "Aah,, semakin bobrok sekali rasa kemanusiaan di negara ini", ujar ku berpendapat dan ikut menghardik si pelaku tabrak lari di dalam hati sembari berpikir, akankah besok pagi aku masih bisa bertemu si abang penjual keripik singkong saat keluar dari kontrakkan?

11 comments:

munir ardi said...

tabrak lari mungkin adalah hal yang jahat tapi tak perlu kita berburuk sangka bahwa ada yang sengaja menabrak

BlogS of Hariyanto said...

innalillahi wa inna ilaihi rodjiun,
setiap musibah adalah suatu ujian kehidupan terhadap setiap insan hamba ALLAH, dan semoga musibah itu kelak bisa berobah menjadi berkah bagi yang mau bersabar menerimanya.....salam :)

Pakies said...

Semoga penjual ini diberikan jalan keluar yang lebih baik atas kesabaran dalam menghadapi musibah yang dialaminya. Dan penabrak diberikan terbukanya hati untuk bertobat

Putri Baiti Hamzah said...

Innalillahi...Semoga abang itu diberi kelapangan menghadapi episod hidupnya setiap harinya.

Begitupun kita yg kadang lupa memikirkan bahwa dalam gerak gerik langkah kita, ada orang lain sebagai dampak..Semoga dampak tsb positif :)

Cak Win said...

semoga diberi jalan keluar yang terbaik amin

Halaman Samping-nya Inung Gunarba said...

jadi inget pesen tante-tante polwan di Tipi: jadilah pelopor keselamatan berlalu linas, budayakan apa ya... keknya keselamatan sebagai kebutuhan.

Gegara ceroboh, tergesa-gesa eh yang celaka orang lain. ga ada ruginya lho melambatkan laju kendaraan :D

Ahmad Fauzan said...

Ah, sebentar lagi juga si penabrak itu kena batunya. Si penjual keripik cuma harus bersabar sedikit, majikannya pasti majikan yang bijaksana.

Btw, itu foto kayaknya aku pernah liat deh. Dimana ya? O iya, di kamarku. Hahahaha!

Gulunganpita said...

masih ada banyak hal yang dapat dijadikan alasan untuk bersyukur dari kehidupan kita..
terima kasih atas kisahnya (:

sudut kelas media belajar siswa said...

saat pulang kuliah (dulu) saya selalu senang menghabiskan waktu dengan berjalan (menuju rumah), sambil menikmati suasana malam (kuliah malam-siang bekerja).
Walau banyak angkot yang bisa ditumpangi atau tawaran teman mengantar pulang, tapi masih senang memilih jalan kaki sendiri...menyusuri jalan raya, melihat lalu lalang kendaraan, terkadang potong kompas lewat jalan kecil, gang sempit...mengamati keadaan sekitar....yaaah sangat menyenangkan.

Kaitannya dengan artikel diatas?...mengamati kondisi kebiasaan orang dan lingkungan sekitar memang ada hikmah tersendiri. Menjadi pelajaran berharga, minimal untuk diri. Bagaimana memandang dan akhirnya menghargai sesuatu tersebut..

salam kenal Cerita Hujan salam damai

hasana said...

Kasihan penjual keripik singkong...smoga diberi rejeki pengganti gerobaknya

syabany said...

terimakasih atas informasinya sangat bermanfaat