Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Sunday, March 20, 2011

Auriga ( Bagian-4 Habis )

15 Rabiulakhir 1432 H
Minggu, 20 Maret 2011

Baca cerita sebelumnya di sini : Auriga (Bagian-3)

-----------------------

"Apa yang kamu pikirkan Nak?", ujar Mama yang tiba-tiba sudah ada di samping Auri Ada perasaan galau di hati Auri tentang pekerjaan baru nya ini. "Besok pagi pengumuman hasil testing Ma", jawab Auri pelan sambil menggerak-gerakkan kedua kaki nya yang terendam di kolam ikan kecil belakang rumah. "Insyaallah, kalau pekerjaan itu memang baik untuk mu menurut Allah, Mama yakin, kamu akan lulus". Auri tersenyum dan merasakan setetes kesejukkan di kalbu nya.

"Insyaallah Ma, tapi... ada yang mengganjal di hati Auri sekarang Ma, hmm... menurut Mama, menjadi pengemudi busway apakah bentuk menyalahi kodrat sebagai seorang perempuan?", akhirnya Auri mampu mencurahkan ke galauannya. "Tidak ada sedikit pun niat Auri untuk melakukan seperti yang orang sebut emansipasi Ma, Semua terjadi hanya karena Auri merasa kalau proses kehidupan Auri sudah terlalu monoton, tak ada hal lebih yang Auri rasakan ketika Auri pergi pagi ke kantor dan pulang di sore hari. Auri ingin melakukan hal lebih Ma, bukankan kita akan menjadi seorang yang merugi bila kita tidak melakukan hal yang lebih baik setiap harinya?", ujar Auri.


Mama tersenyum dan menghembuskan nafas pelan. Diusapnya kepala anak semata wayangnya itu. "Emansipasi,,, memang merupakan suatu kata yang mempunyai ragam makna, Nak. Dan Emansipasi adalah kata yang paling erat hubungannya dengan seorang wanita, karena wanita lah yang terkadang merasa adanya sesuatu yang tidak benar dalam hidupnya, baik itu karena ada rasa iri kepada pria atau karena memang tidak mendapatkan keadilan dan haknya sebagai seorang wanita", ujar Mama.

Mama juga tidak tahu, sejak kapan masyarakat menjadikan wanita sebagai bahasan penting. Namun yang Mama tahu, begitulah fenomena zaman ini. Wanita saat ini, dibelahan bumi manapun ia berada, sedang menjadi sentra pembicaraan. Bahkan untuk sebuah topik urgen dan asasi".

"Polemik ini begitu panjang, seolah mengiringi pergantian siang dan malam. Hingga tumbuhlah ia menjadi kajian penting, mengasikkan, berliku dan penuh teka-teki. Kadang juga terkesan dibuat-buat dan diada-adakan. Hingga pemecahan dan jalan keluarnya pun menjelma menjadi sesuatu yang susah dan menyulitkan".

Masalah  ini begitu menyita perhatian umat Islam. Para muslimah juga tidak ketinggalan. Oleh karenanyalah mereka tidak sempat mengejar karir, ataupun yang lainnya. Mereka terombang-ambing dibuatnya. Lelah sudah mereka mengadakan pembelaan dan perlawanan. Jadilah perbandingan antara pria dan wanita sebagai kesibukan mereka. Bingung dan tanda tanya besar tentang posisi wanita mendominasi benak mereka.

Mama ingat ucapan seorang dai'yah, Zainab Al-Ghazali, katanya, "kita telah membebek (menurut) pada Barat dan menjadikan wanita sebagai sebuah masalah. Hingga banyaklah pertanyaan-pertanyaan tentang "wanita teladan", "profil wanita", "kedudukan wanita", dan lain-lain. Seolah-olah wanita dalam Islam tidak memiliki peran. "Kamu tau Nak? Menjadi laki-laki atau wanita  itu sama saja, karena iman dan taqwa lah yang menjadi ukuran baku restu Sang Pencipta, ujar mama mengakhiri.

"Iya Ma, memang arti emansipasi sudah terlalu luas dan menjerumuskan seorang wanita bila ia tidak mengetahui peran sebenarnya sebagai seorang wanita di ciptakan. Hmm...  tapi Ma, terkadang ada juga paradigma yang membatasi ruang gerak seorang wanita untuk menjadi lebih baik. Sebagai contoh,  sekarang ini masih banyak Muslimah yang belum tahu cara berkoneksi internet, bahkan tidak tahu apa itu internet. Menurut penelitian yang aku baca, wanita pengguna internet di Indonesia baru mencapai 24%. Memang masih lebih tinggi dari rata-rata wanita Timur Tengah yang hanya 6%. Tapi jelas, masih jauh tertinggal dibanding wanita di Amerika Serikat yang sudah mencapai 41% dan Amerika Latin 38%. Dari hasil tersebut terlihat, bahwa Muslimah yang notabene nya berasal dari Indonesia dan Timur Tengah ternyata masih sangat rendah.

Coba Mama perhatikan orang-orang yang brkecimpung d bidang teknologi, ternyata bidang ini cenderung didominasi oleh kaum pria, bisa di lihat dari jumlah mahasiswi yang menjadi kaum minoritas di jurusan teknik.

Wanita cenderung menghindar dari pekerjaan teknis atau berbau teknologi karena: telah terjebak isu gender, Faktor alamiah, dan Adanya diskriminasi di dunia kerja. Padahal, sebenarnya teknologi itu sendiri di ciptakan utk mempermudah kehidupan manusia, yang tidak terbatas oleh gender.

Memang fitrahnya wanita cenderung lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan rumah tangga, tapi ada banyak teknologi yang bisa mempermudah pekerjaan tersebut. Contohnya, dengan adanya internet banking, pekerjaan membayar berbagai tagihan menjadi relatif mudah dan terhindar dari antri, yg bs menghemat waktu dan tenaga. Internet juga bisa di gunakan untuk mencari berbagai resep masakan, kecantikan, atau mencari info tentang perkembangan dan pendidikan anak. Dan yang paling penting, muslimah adalah guru bagi anak-anaknya, yang menjadi penerus umat. Kalau gurunya gaptek  bagaimana dengan muridnya nanti?? 

Begitu juga dengan pekerjaan  menjadi pengemudi busway. Menurutku, bekerja menjadi seorang pengemudi  busway bukanlah suatu hal yang salah. Memang sih, paradigma masyarakat sudah tertanam kalau menjadi seorang pengemudi atau sopir adalah pekerjaan kasar dan khusus untuk kaum pria. Tapi, menjadi pengemudi busway merupakan hal yang berbeda dari menjadi pengemudi-pengemudi lainnya. Karena, seorang pengemudi busway memiliki gaji dan tidak pernah bekerja untuk mengejar setoran. Ia mempunyai jadwal yang tepat, yaitu bekerja hanya delapan jam dalam sehari,  ujar Auri menambahkan.

"Nak, Mama yakin kamu sudah paham mengenai hal ini, tapi Mama tetap akan mengingatkan agar kamu tidak melupakan kodrat alamiah seorang wanita nantinya. Kalau masih sebatas mencari pengalaman dan ilmu, Mama pasti merestui, tapi... kalau kamu mau jadikan pekerjaan ini untuk selamanya, Mama rasa tidak toh?", ujar Mama tak kalah untuk mengemukakan pendapatnya.

"Iya.. Mama ku sayang.... mana mau juga Auri jadi pengemudi busway selamanya, karena Auri tahu, peran Auri yang utama adalah menjadi seperti Mama", jawab Auri sambil memeluk Mama manja, dan kemudian keduanya berangkulan ke dalam rumah diikuti pandangan sepasang mata dari rindang nya pepohonan di sekitar kolam.

***

"Horaaay!!! kita lulus semua!!!", Shinta berlonjakkan kegirangan. Terlihat juga Mbak Susi, Mbak Dian dan Yuk Rina berangkulan bahagia. Dari jarak yang agak jauh, Auri melangkah menuju ke seseorang yang semalam telah menghubunginya kembali lewat telepon. Seseorang yang semalam secara tidak sengaja mendengarkan pembicaraannya dengan Mama. Seseorang yang juga telah menyalakan kembali pelita di hati nya yang redup. Langkah Auri pun semakin cepat dan dalam langkahnya ia pun membalas lambaian tangan sosok yang bersandar di sebuah mobil.  "Dhirga!! Aku lulus!!! Aku Lulus", ujar Auri Bahagia.


--Tamat--



17 comments:

Djangan Pakies said...

Assalamu'alaikum Ning Amie,
Sebuah pilihan indah sesuai dengan nurani memberikan nilai yang tak terukur, apapun itu pilihannya. Dan Auri mampu mewujudkannya walopun menjadi seorang Sopir yang di mata Dirga bukan pillihan yang tepat. Tapi akhirnya Dhirga luluh juga oleh sebuah keyakinan.
.....
Teb Markanteb dengan pesan di dalamnya

i-one said...

wah,akhirnya happy ending nih.tapi salut loh,ulasannya tentang perempuannya luar biasa,pasti melalui penelitian nih.

Adi Waskita Dharma said...

Kesimpulannya:
Jadilah seperti apa yang kamu impikan. Walau itu melewati batas atau norma atau paradigma di masyarakat..

karena kita menuju suatu impian.. bukan menuju norma..

salam
blogger indonesia

Nyayu Amibae said...

Pakies :
Waaalaikumsalam... terima kasih pak... :)

sob I-one :
Iya, alhamdulillah.. akhirnya terselesaikan juga.... trims sudah membaca..

Sob Adi :
salam juga.. iya.. betu,, jadilah diri sendiri dengan tetap menjadikan Al-Quran sebagai tuntunan Hidup.. :)

iffa hoet said...

Assalamu'alaikum....tok tok tok...
Mau ngirim Asem-Asem Bandeng Nih buat ngerayain kelulusan Auri...hehe

iya mbak isyu gender emang kerap terjadi. Jadi ingat dulu saat kuliah, kalo aku pas naik bis sll ditanya kuliah fakultas apa? Saat aku jawab tehnik mereka rata2 kaget dan bilang cewek kok pilih tehnik?

Padahal fak.tehnik juga asyik yo sis, kita di kelas jadi primadona *maklum ga ada lainnya....wkwkwk*

Herdoni Wahyono said...

Emansipasi wanita menjadi bahasan yang menarik di era globalisasi ini. Sampai sejauh mana mereka dapat berpartisipasi dalam mengisi pembangunan ini ? Bukan jamannya lagi wanita itu 'suwargo nunut neraka katut'. Perlu peran yang lebih dan berharga bagi kemajuan suatu negeri. Pikiran yang sempit dan kerdil perlu dijauhkan dalam memandang peran seorang wanita. Walaupun demikian kodrat sebagai seorang wanita juga perlu diperhatikan.

M Mursyid PW said...

Ceritanya menarik.

Arief Bayoe Sapoetra said...

wah bagus sekali mbak ceritanya... memang dilema dalam hal ini....semoga bermanfaat

Zan Insurgent said...

wah ini ceritanya endingnya ane banget... ane juga kalo udah jenuh sama satu kerjaan mencoba mengalihkan kejenuhan dengan mencari kerja yg lain,ane juga pernah kerja masak memasak bukan berarti menyalahi kodrat juga kan hihihi... ^_^

Happy Weekend n Happy blogging Ami...

Noor's blog (inside of me ) said...

Walau kadang masih ada pro & kontra mengenai peran wanita, namun dijaman kesetaraan gender sekarang ini, banyak profesi yang sudah dilakukan oleh wanita termasuk menjadi supir busway. Rasa2nya tak ada yang salah, walau dibutuhkan kearifan dalam membagi peran antara peran di rumah dan peran dalam menjalankan profesi.

Ferdinand said...

Ass. Sista Ayu...

Wah akhirnya ada terusannya dan akhirnya ceritanya tamat haha.... tak kira mau jadi 10 season kaya sinetron wkwkw...


ternyata endingnya si Auri lulus toh hhe... Hem, tapi perasaan yg tulisan tentang IT aku pernah baca juga deh sista dipostingan terdahulu... iya gak sih? lupa aku hhe...

tapi klo boleh share, disinijustru lebih parah, udah soalnya cewe'y malah jadi Kenek hhe...

Yo wes lah aku tak pamit dsik sista...

Semangat n Have a nice day :D

obat diabetes said...

terima kasih sob buat ceritanya,
hehe

irhampedia said...

ooow... itu lah kenapa saya sukany sama wanita, bukan pria, hehehe...

salam kenal kakak... tetanggoan kekny kito ni :D

windflowers said...

halo ami..pa kabar..? wah, aku hrs baca dl dari bagian 1 ya...hehehe...

Srikandi Hati said...

di akhir cerita akhirnya Auri menemukan kebahagiannya,,,,,
ceritanya boleh juga nih,,,menarik :)

Merliza said...

terimakasih untuk ceritanya... sangat menginspirasi :)

tiwi said...

asswrwb.... lah kemaren ak kayaknya udah silaturahim disini ya?? tapi blm komen ya?? apa aku yg lupa?? *garuk2.... Okay dehh....menindaklanjuti cerpen Auriga bag ke-4(tamat) maka *bahasanya resmi amat yak...hehhehe saya simpulkan endingnya sgt asiik krn ada sentuhan romantisnya...cie... selalu yg berbau asrama asiik utk disimak..wkwkkw, tetap berkarya sis Ami chayank....kan kunanti cerpen selanjutnya...