Postingan

Menampilkan postingan dengan label Curhat

Sosmed Down, Tak Dapat Duit

Gambar
Habis sholat shubuh langsung bercengkrama dengan si lepi yang sekarang sudah seperti anak tiri yang tak rajin diasuh lagi, hahaha. Pagi ini hati sedikit galau, bukan karena kerusuhan 22 Mei yang terjadi di Jakarte sono tapi nih semua karena aplikasi sosial media (sosmed) yang selalu di pantengin untuk buka lapak dagang serabutan pada nge" down " alias tak bisa dipakai. Sedari kemarin cuma garut-garut kepala yang tak gatal, bolak-balik ke dapur yang tak ada makanan yang dimasak (*Ya iyalah puasa!), main-mainin benang untuk "nguli" buat kalung, tidur-tiduran ngegames kala penat, aah.... kalau main games ya tak ada peluang dapat duitlah, duuuh... balik garut-garut kepala lagi. Lalu apa hubungannnya Sosmed down sama tak dapat duit?

Bulan Mei 2018

Gambar
Bulan Mei 2018, ah sudah lama sekali aku tidak menarikan jemari menorehkan tulisan di blog ini. Yup, aku merasa sedang berada di titik terendah dalam perjalanan roda kehidupan. Berbagai kesedihan datang bertubi-tubi. Kehilangan ibu di bulan Desember 2017, menyusul kehilangan ayah di bulan April 2018.  Aku cukup lama terdiam, hanya mampu melihat dan merasakan perjalanan hidup yang terasa semakin cepat. Sekarang aku dibingungkan akan kembali ke dunia pemberdayaan, atau mewujudkan mimpi memilih dunia ku sendiri. Bulan Mei 2018, titik awal dan juga akhir untuk sebuah pilihan. #HanyaCobaMenulis #Pemanasan #SemogaBisaKembaliKeDuniaTulisMenulis

Berkorban Untuk Sesuatu yang Tidak Berkorban

Gambar
"Hust...... kalau ngomong ngasal!", potongnya secepat kilat saat aku berkata aku pingin mati muda kayak Soe Hok Gie. "Kok ngasal sih, bukannya malah enak, kalau mati muda pertama dosa nya tidak sampai sebanyak orang yang mati tua, terus yang kedua matinya bakal ditangisi oleh orang-orang yang mencintai kita bukan sebaliknya," ujar ku kembali berargument yang membuatnya semakin jengah. Sekali ini matanya melotot, tak berkata tapi seakan menyampaikan pesan untuk ku tak melanjutkan bahasan ini.

Jangan Lupa Bahagia..........

Gambar
Huft..... aku menghela nafas panjang, tinggal 14 hari lagi bulan Desember akan kembali berlalu. Ada banyak cerita yang terjadi di tahun ini dan tentunya masih diwarnai kisah suka dan duka. Tidak ada manusia yang akan mengetahui kemana takdir dan suratan hidup akan berlabuh, tapi manusia pastinya tetap mempunyai pilihan untuk menentukan kemana takdirnya akan berakhir. Tak perlu takut salah memilih, karena setiap pilihan akan mengandung resiko. Aku kembali menatap layar lcd lepi yang begitu membuat mata lelah karena seharian tak henti  bercengkrama dengannya. Sesekali pandangan mengalih ke catatan dan print out kegiatan sosialisasi yang butuh untuk segera dilakukan eksekusi menciptakan rencana aksi. Tapi sayang, suara merdu Rio Febrian yang mengalun dari WMP sama sekali tak membuat semangat naik. Sampai akhirnya, aku merindu kembali pada blog ini. Padahal sang hujan enggan menyapa, dan hujan tak berminat bersenandung. 

Derasnya Hujan...

Gambar
Derasnya hujan semakin menyelimuti kebisuan diantara kami berdua. Sesekali dia menyeruput kopi moka di dalam cangkir putih yang semakin mendingin. "Jadi keputusanmu sudah bulat?", akhirnya dia pun memecahkan kesunyian. "Ya begitulah," jawabku sembari menghela nafas berat.

Aku Hanya Bisa Diam di Sini

Gambar
Akhirnya minggu yang paling berat ini pun terlewati. Setelah penutupan acara, aku hanya bisa terdiam di sudut ruang meeting. Masih sangat tak percaya, acara yang aku persiapkan dengan mengorbankan waktu tidur setiap harinya akhirnya selesai dengan hasil yang sangat berantakkan. PEMDA yang seyogyanya sebagai sang empunya program malah melenggang begitu saja, meninggalkan acara yang menjadi salah satu wadah nya untuk mencapai target. Aku terhempas, mimpi ku terlalu tinggi padahal PEMDA yang seyogyanya nahkoda program tak sedikitpun peduli. Aku pun merasa terlempar semakin jauh, kala sahabat yang harusnya menjadi teman perjuangan juga melakukan hal yang sama.

Epilog Khayalan

Gambar
"Kamu sungguh-sungguh?", aku terhenyak akan rasa haru diiringi rinai hujan yang membuat suasana semakin syahdu."Ya, aku sungguh-sungguh!", ujarnya seperti biasa dalam tatapan yang tajam. Aku pun membalas tatapnya, mencoba mencari suatu selah untuk tak mempercayai ungkapannya. Tapi semakin aku mencari, semakin aku meyakini kesungguhannya. "Jadi bagaimana? apa kamu sudah siap meninggalkan semua yang melekat erat dalam kehidupanmu?" sekarang berganti dia yang meminta kepastian. "Insaallah aku siap!", jawabku dengan hati yang mantaf sembari membayangkan sebuah kehidupan baru yang begitu indah dan nyaman tanpa adanya tekanan dan tanggung jawab besar yang sering mengganggu tidur. #CumaEpilogKhayalanSebuahMimpiYangBelumKesampaian #KalaPenatMelanda

Hai Mr.A

Gambar
Hai Mr.A Apa kabar mu? Sudah lama aku tak menyapa Malah tepatnya, aku tak bisa menyapa mu Hai Mr.A Aku berharap kamu baik-baik saja disana Menjalankan semua aktivitas untuk menggapai asa Hai Mr.A Berkali-kali aku mencoba menghapus kenangan tentang mu Berkali-kali juga aku mencoba meyakinkan diri kalau berharap akan mu adalah sebuah kesalahan Tapi Berkali-kali juga hati memberontak Hai Mr.A Aku tahu harap ku cuma hampa tapi aku tak bisa mengidahkan kalau kebaikkan mu sudah terpatri disanubari #HanyaMerindu

Kapan Kamu Mau Nikah?

Gambar
Aku cuma bisa cengar-cengir kuda sambil tetap melahap semua kue khas Palembang yang menjadi sajian wajib kala hari Raya Idul Fitri saat seorang sahabat kembali menanyakan pertanyaan dan sepertinya juga menjadi pertanyaan langganan kala hari Raya. "Oeii, ditanya kok malah mesam-mesem? Kapan kamu mau nikah?", kali ini piring kue ku pun ditarik dari peredaran dan saat itu aku baru nyadar kalau semua mata tertuju kepada ku. "Kalian kok serius sekali, tenang saja habis hari raya Idul Adha aku nikah!", ujar ku dan sekarang gantian melahap kacang mede yang ada di toples. "Serius habis hari Raya Idul Adha ini kamu akan nikah? dengan siapa? kok aku ketinggalan berita?", sekali ini si Pinokio yang angkat bicara.

Sudah 60 Menit

Gambar
Sudah 60 menit, aku hanya terpaku di depan lepi. Bolak-balik mengamati deretan tulisan status  teman-teman di beranda facebook. Sesekali aku cengar-cengir tak jelas, sibuk sendiri di alam pikir dengan khayalan tingkat tinggi. Helaan nafas panjang bagai menjadi warna saat aku menghabiskan detik demi detik waktu tanpa melakukan suatu apapun. Padahal sebelumnya banyak sekali perencanaan yang akan dilakukan saat aku berniat membuka lepi. Tak ku pungkiri, dia telah mencuri waktu ku. Dia yang hanya fatamorgana di kehidupanku begitu indah mengisi ruang hati. "Ah, ini tidak boleh terjadi!" kembali suara hati ku berteriak keras. *Hanya tulisan ketika hati tak menentu di akhir Bulan Ramadhan

Akhirnya Aku Bisa Bersua Sosok Itu

Gambar
Akhirnya aku bisa bersua sosok itu. Sosok yang sangat menginspirasi, dan selalu menyemangati walau hanya dengan bertatap mata serta bercengkerama sebatas dunia maya. Sosok yang selalu ada kala aku merasa jenuh dengan perputaran program yang dinamis. Sosok yang menjadi sahabat saat mata yang tak kuasa membendung tentang cerita hujan di hati. Akhirnya aku bisa bersua sosok itu, Sosok yang aku kenal sejak tahun 2006 saat pertama kali aku mencoba menarikan jemari menjalin kata di atas keyboard. Sosok yang secara tidak langsung menjadi guru untuk mengenal dunia jurnalistik Sosok yang tak segan menjewer dan mengingatkan, kala aku melakukan banyak kesalahan penulisan. Sosok yang memperlihatkan kepadaku kalau merangkai kata adalah hal luar biasa Akhirnya aku bisa bersua sosok itu. Setelah 10 tahun, dunia maya menjadi dunia nyata Hanya bisa memandang tapi lidah terasa kelu Ternyata mengungkap kata saat bertatap muka tak semudah menarikan jemari di atas keyboard Aah, ada yang ane...

Sosok Berpakaian Nyentrik

Gambar
يا مقــلـب لقــلــوب ثبــت قــلبـــي عــلى طـا عــتـك 'Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Ta'atik' Artinya: “Wahai Dzat yg membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu” [HR. Muslim (no. 2654)]     "Memang indah melihat mu bersama buku-buku itu!", sosok berpakaian sed ikit nyentrik itu tiba-tiba saja sudah ber ada disampingku. Aku hanya meng hela nafas pelan dengan mengembalikan pandanganku ke sebuah buku yang baru saja aku b eli di Gramedia dihari Rabu kemarin.   "Kapan pulang?", tanya ku pelan tetapi tetap asik dengan sang buku. "Aku rasa tak ada pentingnya kamu tahu kapan aku pulang?  BBm dan WA ku sama sekali tak pernah di baca apa lagi dibalas", jawabnya sambil menarik buku yang sedang aku baca.

Sehari Lari dari Kenyataan

Gambar
Dunia kerja sekarang begitu rumit, ya, sangat rumit, sampai-sampai aku merasa menjadi bukan diriku sendiri ketika berada di dalamnya. Dari senin sampai dengan jum'at aku merasa kebebasan dan hak asasi sangat terkekang, tak bisa protes, tak boleh protes, bila mau protes ya aku harus keluar dari lingkaran ini. Apa aku berani untuk melangkah keluar? mengikuti para senior yang terlebih dulu meninggalkan dunia kerja yang terlalu dinamis? menutup buku dan mengakhiri semuanya. Aaah,,,,, Weekend,,, ngegames saja yuuk,,,,,,,,,,,,,  **ambil langkah sejuta, sehari lagi punya waktu lari dari kenyataan.

Mengalihkan Pembicaraan

Gambar
"Jadi kamu tak percaya dengannya?", sekali lagi dia bertanya sambil menyeruput wedang jahe di 1820 Mdpl Gunung Dempo. Aku hanya bisa mengangguk sambil melepaskan pandangan ke hamparan perkebunan teh yang membentang eksotik. Belaian angin pergunungan merengkuhku untuk tetap terdiam. "Lalu sampai kapan kamu akan tetap tak bisa membuka hati untuk memberi kepercayaan? ingat, tak semua orang bersalah kepadamu, jadi jangan sampai kamu menghukum orang yang sama sekali tak bersalah padamu!", tanyanya kembali tetap tak berpaling bercengkerama dengan kepulan asap dari gelas wedang jahe. "Please, jangan bertanya yang aku tak bisa menjawabnya, hmm.. coba lihat itu, ketika kita merasa naik ke sini berputar-putar, ternyata jalanannya sama sekali tak memutar!", ujarku menunjukkan jalan pendakian untuk mengalihkan pembicaraan. Dia ikut memandang kemana arah ku menunjuk, aku tahu dia diam karena dia tahu betapa keras kepalanya aku untuk tak menjawab pertan...

Aku Punya Alasan...

Gambar
"Hoeei!!! ngapain kamu disini!", teriakkan suara cempreng yang sangat akrab ditelinga, menghamburkan lamunanku. "Tak ada, aku hanya menunggu kiriman email dari teman-teman yang sampai sekarang tak kunjung datang", jawabku pelan sembari memandang ke arah yang berbeda untuk menyembunyikan mata yang masih saja tak berhenti mengalirkan air mata."Soal kerjaan lagi! kamu masih tak lelah kerja disitu?", tanyanya sambil menghela nafas berat dan kemudian duduk disampingku. Aku tak mampu menjawab pertanyaan atau memalingkan wajah memandang kepadanya. Aku tertunduk diam dalam belaian sang bayu yang bertiup mesra seusai merayakan pesta dengan alunan rinai hujan.

Mendobrak Sisi Pekat Hati

Gambar
"Bunuh diri?? huaaah tak mau!! dosaaaa!!", teriak ku merespon cepat ucapan sahabat yang menjadi teman curhat di awal pagi. "Masih ingat dosa? kenapa bisa bilang separuh jiwa pergi?", ujarnya lagi sedikit ketus tapi sangat menohok ke sanubari. "iya, tapi tetap aku manusia, masa tak boleh sedih?", kilah ku sembari merengutkan wajah menjadi delapan lipatan. " dan sejatinya mengapa harus kecewa dan sedih jika kita benar-benar mencintai... harusnya kita bangga dong ketika orang yang kita cintai itu mendapatkan kebahagiaan... karena itu yang  seharusnya ada dalam setiap harap dan do'a", jawabnya pelan, tapi lagi-lagi mendobrak sisi pekat hati. *hanya penggalan curhat dengan kak Meton di awal pagi.

Kepo Maksimal

Gambar
"Hentikanlah, jangan membuatku tambah merasa sedih melihat mu!", ujarnya sembari meraih lepi ku menjauh. "Tenang, aku tak apa-apa, ayo kembalikan, aku belum selesai menata tamanku", jawabku pelan dan mengambil kembali si lepi untuk segera meneruskan design rumah di suburbia games. Aku tak berani menatap mata sahabat terbaik yang selalu ada untuk ku itu. Aku tak berani menampakan keadaan hati ku yang hancur  berkeping-keping. Aku terlalu malu untuk menceritakan kepadanya tentang kejadian kemarin. Yup, kejadian laksana petir yang menggelegar di langit yang cerah. "Aku lama mengenalmu, ketika kamu menjadi maniak games seperti ini, artinya ada sebuah masalah besar, ayolah, aku sahabatmu?", ujarnya keluh. Tanpa mengalihkan pandangan dari monitor si lepi, aku senyum meringis ketika melihatan sahabatku yang kepo maksimal. "Ya sudah, kalau kamu tetap tak mau cerita aku pulang saja!", ujarnya merajuk sambil meraih ransel motif batik di at...

Oke, Deal!!!!

Gambar
"Oke, Deal!!", ujarnya bersemangat sembari menjabat erat tanganku. Aku tersenyum, memandang wajah tulus yang selalu menemaniku disaat ku membutuhkan "tong sampah" dari semua keluh kesah di hati. "Hei! kok malah bengong, aku rasa kesepakatan ini bakal selesai sebelum di tandatangi seperti saat sudah-sudah,,", ujar nya dengan merengutkan wajah. "Aku janji, aku akan berusaha, percayalah!", jawabku mencoba menyakinkan walaupun aku mengakui kalau aku sudah terlalu sering mengingkari janji bila berkenaan tentang yang satu ini. "Oke, tapi sekali ini aku tak mau rugi! bila kesepakatan kembali tak dijalani, kamu harus mau membelikan smart phone inceran ku selama ini, bagaimana saudariku Nyayu Amibae, deal?", tanyanya kembali dan kembali mengulurkan tangan kanannya. "Yup, Deal!", ujarku menjabat tangannya. Dari balik jendela aku memandang hujan deras yang menyirami kota Palembang. "Begini kah rasanya?", tany...

Tak Henti Mengucapkan Hamdallah

"Palembang sekarang sedang hujan deras", jelasku tentang keadaan malam ini. "Artinya aku bakal mendengarkan cerita, ayoo aku sudah siap?", ujarnya dengan nada bersemangat dari ujung telepon. "Aku tak tahu harus bercerita apa dan mulai dari mana, hampir 4 tahun disetiap bulan Desember  aku selalu merasa was-was, hal buruk apa lagi yang akan terjadi", ujarku menghela nafas panjang. "Setiap tahun aku harus mengumpulkan keping-keping hati yang berserak, tapi tahun ini dia mengubah segalanya. Dia mampu membuatku tenang dengan cara dan perlakuannya yang sederhana tapi sangat menyentuh hati", jelasku dengan tak henti mengucapkan hamdallah dalam kalbu.

Memandang Cermin Dalam Gelap

Gambar
Memandang cermin dalam gelap Tak ada bayang yang berhadap Hanya pikir yang bermain dalam pekat Di hati kelam tak bersekat Ah, Kenapa dengan bulan Desember?