Aku tidak menyuruh kalian menciptakan dunia yang lebih baik, karena kurasa kemajuan bukanlah sesuatu yang harus dicapai. Aku hanya menyuruh kalian hidup di dalamnya. Tidak sekedar bertahan, tidak sekedar mengalaminya, tidak sekedar melewatinya begitu saja, tetapi hidup di dalamnya. Memperhatikannya. Mencoba mengambil maknanya. Hidup dengan nekat. Mengambil peluang. Membuat karya sendiri dan bangga terhadapnya... (Joan Didion - 1975)

Saturday, April 9, 2011

Sapu Lidi ajaib

Pak Timin berjalan tergesa-gesa ke arah kota tanpa menghiraukan kaki nya yang hanya bersandal jepit  tergores oleh rimbunan rumput liar. Memang jalan yang dilalui lelaki tua itu merupakann jalur yang tidak biasa dilalui penduduk bila akan ke kota, Tapi ia tahu pasti kalau jalurnya yang memotong semak belukar ini adalah jalur yang membutuhkan waktu paling singkat menuju  kota.

Sambil menyeka peluh yang mengalir deras, sesekali pak Timin melirik sebuah sapu lidi di tangannya. Terbersit senyum di wajah tua itu, seakan-akan sapu lidi itu telah menghapus letih yang ia rasakan.


***

"Ah.. yang benar bu, mustahil itu!", sanggah bu Saida tanpa menghentikan kegiatannya mengguntingi pagar dari tanaman nya yang tidak rapi lagi. "Waduuh... kok ga percaya sih,, ini kenyataan loh Bu! sudah ada contoh nyata nya", ujar bu Sani sewot dan kemudian berlalu dengan mendumel kesal karena ucapannya tidak dipercaya.

Buk Saidah tersenyum kecut melihat sosok buk Sani yang berjalan menjauh. Sebetulnya Buk Saida sudah lebih dahulu tahu tentang Pak Budi yang sekarang menjadi buah bibir warga sekampung. Pak Budi seakan-akan menjelma bak seorang selebritis setelah pulang merantau dari kota. Dalam sekejap gubuk reot satu-satu nya harta pak Budi sebelum ditinggal merantau merubah menjadi sebuah rumah permanen bertingkat dua. Pak Budi juga membeli berhektar-hektar tanah persawahan untuk dikelola oleh penduduk yang menjadi buruh tani.

***

"Menurut bapak bagaimana?", tanya bu Saida sambil membereskan piring dan gelas  kotor di atas meja setelah makan malam. "Bisa jadi itu benar bu", ujar Pak Timin suami nya. "Tapi kok, aku masih kurang percaya loh pak.. masa karena sebuah sapu lidi Pak Budi bisa menjadi kaya raya", suara bu Saida terdengar samar dari balik dapur. "Kenyataannya begitu buk, tadi Pak Burhan tetangga Pak Budi yang cerita langsung ke bapak Katanya ia melihat sendiri di hari ketika Pak Budi akan merantau ke kota, Pak Budi hanya membawa sebuah sapu lidi", jawab Pak Timin sambil menyeruput kopi di cangkir besar  berbahan seng.

"Memang apa kerja Pak Budi waktu di kota pak?", tanya bu Saida penasaran. Pak Timin melepaskan peci dari kepala nya dan kemudian menjadikannya kipas untuk menghalau udara malam yang gerah. "Pak Burhan bilang Pak Budi hanya menjadi penyapu jalanan dari dinas kebersihan dan pertamanan.", jawab pak Timin sambil tetap mengipaskan peci nya. "Tuh kan!! bagaimana mungkin... seorang tukang sapu jalan bisa kaya raya!!", tukas Bu Saida sambil duduk di kursi rotan yang mengeluarkan bunyi menderit.

"Aku juga awalnya berpikir begitu bu,, tapi setelah mendengarkan cerita Pak Burhan, sepertinya kenyataannya begitu bu.,, Bisa jadi kalau di di sini sebuah sapu lidi tidak berarti apa-apa,,, tapi ternyata di kota,, sebuah sapu lidi bisa menjadi ajaib", ujar Pak Timin menganalisa. "Aku tidak mengerti pak...", ujar Bu saidah mengernyitkan dahi. 

"kita akan mengerti bu, kalau kita berani untuk mencoba melakukannya juga", ujar Pak Timin. "Maksud bapak?", tanya Bu Saida semakin tidak mengerti. "Besok Bapak akan ke kota untuk membuktikan nya!".

----

sumber gambar : google image


12 comments:

Nufri L Sang Nila said...

ada lanjutannya gak kira2?....gantung nih...sama nasibnya pak timin....apakah sama dengan nasibnya pak budi......
salam.........

Nyayu Amibae said...

sob Nufri : hm.. lanjutannya?? kayaknya sampe situ aja deh.. memang sengaja ceritanya menggantung.. karena nasib pak timin akan terjadi sesuai opini masing2 yg baca....

perawatan ac said...

bagaimanakah kelanjutannya..?apakah bapak timin ikut ke kota dan bisa menjdai kaya raya seperti bapak budi.??tetap saksikan opera van blog okee : )

Bapak budi sedang menyapu nemu dompet milik melinda jadi cepet kaya dehhh xixiixi

tiwi said...

asswrwb... sapu lidinya ajaib ya, yg disapu bisa berubah jadi emas..heheh, *ngawur.com kaburrrrr sebelum ditimpuk sis Ami..........

Ami said...

Wah... Baru nyebut sapu lidi ajaib langsung ceritanya terputus, bikin penasaran aja...

DuniaPiyen said...

sukses merantau ternyata pak budi...

Itik Bali said...

wah hebat lho pak budi...

Arief Bayoe Sapoetra said...

Assalamualaikum mbak.... wah tlat noh saya baca cerpennya..........hehehee semangat mbak.... memang seru cerita samean....:) Sapunya kalau menurut ku itu media untuk memacu kerja keras pak timin memasarkan sapu lidi dikota.... ya paling jadi pengusaha sapu lidi gitu....hehehehe kalau didesa kan lumrah....:)

afadin said...

kalo ada yang sukses, ada aja ya pembicaraan ttg dia.. nice story Mbak..

pri crimbun said...

salam buat pak budi ya :)

TUKANG CoLoNG said...

wah endingnya masih misteri ni..

Zan Insurgent said...

sapu lidi kelihatan sepele, tapi ternyata bisa merubah jalan hidup seseorang... "ajaib...."